Sabtu, 15 Februari 2020

HARGA SEBUAH PENUNDAAN

Saya punya cerita tentang mahalnya harga penundaan, terutama saat saya menawarkan beberapa produk asuransi salah satunya adalah asuransi pendidikan. saat itu saya presentasi di tempat ngopi. Seperti biasa saya jelaskan pentingnya merencanakan dana pendidikan sejak anak masih kecil, sebab inflasi biaya sekolah memang luar biasa cepat naiknya. 

Saat itu tanggapannya sederhana, rata rata emak emak kalau ditawarkan asuransi biasanya bilang, nanti saya ngobrol dulu sama suami. beberapa hari kemudian kami segera follow up, dan hasilnya sementara tidak ikut dulu, karena memang tidak ada anggaran untuk berasuransi. 

beberapa bulan kemudian, saya mendengar suaminya wafat. ada terbersit rasa penyesalan kenapa kami kurang ngeyel untuk menawarkan asuransi pendidikan. ada proteksi asuransi yang akan memberi beasiswa anak sampai lulus kuliah jika pemegang polisnya meninggal dunia. kalau sudah begini ya akhirnya seperti biasa, teman teman dan familinya berdonasi untuk kebutuhan keluarganya, dan anaknya akan dibiayai sepenuhnya oleh istrinya sampai lulus kuliah. 

Kebiasaan Menunda
Semahal apa sih menunda itu ? Sekilas menunda nunda itu tidak ada harganya, namun dalam hidup, menunda akan membuat masalah berkumpul sampai pada saatnya kita harus membereskan kumpulan pekerjaan yang tertunda, tentu ini menyulitkan. 

Menunda sebenarnya berasal dari kegagalan melihat tujuan. misal dalam hal mempersiapkan dana pensiun, idealnya dana pensiun dipersiapkan semuda mungkin, sebab dengan usia muda, jarak waktu menuju pensiun cukup lama sehingga dana pensiun yang terkumpul bisa semakin besar, namun karena di tunda tunda, kita baru menyadari kalau usia kita sudah terlalu dekat menuju pensiun, akibatnya kita pun menjadi beban ekonomi anak. 

Tidak Mau Membuat Kebiasaan Baru
Kebiasaan menunda ini bisa jadi karena tidak mau terganggu kenyamanannya. Sebelum menawarkan asuransi kepada prospek, saya terbiasa mengamati profilnya terlebih dahulu, misalnya dia kerja di mana, anaknya berapa dan punya kebiasaan merokok atau tidak. 

Pernah saya menawarkan asuransi pendidikan kepada salah satu prospek. keberatan dia hanya 1, yaitu tidak ada anggaran untuk daftar menjadi nasabah asuransi pendidikan. saya mencoba untuk handle objection keberatan tersebut, karena saya tahu dia punya kebiasaan merokok, rata rata merokok bisa menghabiskan 2 bungkus rokok senilai kisaran 26rb. 

Saya bilang begini, Jika seandainya budget merokoknya dibagi 2 bagaimana ? misalnya Rp 10.000 dipakai untuk asuransi pendidikan dan sisanya silahkan dipakai untuk merokok. hasilnya tetap konsisten dia memilih merokok daripada daftar asuransi pendidikan. memang tidak mudah membuat kebiasaan baru, tidak mudah merubah kebiasaan yang sudah berlaku bertahun tahun, meski pun itu untuk kebaikan anaknya sendiri.   

Biaya Penundaan 
Penundaan memang tidak ada nominal harganya, namun ijinkan saya mengajak anda untuk melihat kehidupan ini secara berjarak. saya biasanya membuat pertanyaan sederhana. 

"Mas, berapa usia kamu, saat anak bungsu kamu masuk kuliah ?"

Jawabannya bervariasi, tapi bukan usia yang jadi tema dialog, tapi pada kemampuan membayar dana pendidikan, saat inflasi dana pendidikan merangkak naik dan saat yang sama Anda sudah cukup sepuh untuk membiayai anak, Anda akan terkejut dengan biaya sekolah yang besar namun lebih terkejut lagi Anda sudah terlalu lelah untuk mencari income sampingan untuk membiayai sekolah anak.  

Jika tidak ada dana untuk biaya kuliah, sementara anak Anda cukup cerdas untuk kuliah, bagaimana perasaan Anda ? menyesal kah ? penyesalan itulah yang sangat mahal harganya, dan usia tidak bisa direvisi atau diputar balik.

jadi, masihkah berencana menunda nunda berasuransi ? Jika tidak, bisa hubungi saya di nomor 082132867889

Kamis, 30 Januari 2020

YANG BENER AJA BELUM PUNYA ASURANSI ?


Kemarin ada chat wa masuk, ada rumah teman kena angin putting beliung, rusaknya lumayan. Kita semua dihimbau untuk berdonasi untuk meringankan musibah. Sebagai teman tentu harus saling tolong menolong. 

Saya akan jelaskan persamaan peristiwa pengumpulan donasi kepada kawan kita dengan prinsip asuransi. Baik Sengaja maupun tidak sengaja proses taawun ini prosesnya dikerjakan oleh asuransi melalui dana tabarru. 

Dalam prinsip hidup tidak ada masa panen selamanya, sesekali ada masa paceklik. Karena itu masa panen hasilnya jgn dihabiskan semuanya, dan masa paceklik perlu diantisipasi. Jadi saat punya uang perlu disisihkan sebagian dana untuk hal darurat, jangan dihabiskan semua.

Musibah datang mendadak, dan berat sekali direcovery sendirian. Saat nabi Yusuf diberi informasi memalui mimpi akan datang musibah, beliau langsung melakukan antisipasi masal dengan mengisi gudang logistik. Dalam hal ini langkah teknis manusiawi dilakukan. 

Dalam hal tolong menolong, dana dihimpun ini dikumpulkan kepada perseorangan yang dipercaya untuk disalurkan kepada kawan saya yang rumahnya kena angin putting beliung. Karena lembaga asuransi itu profesional, maka dana dikelola oleh perusahaan dan diserahkan kepada peserta yang masuk Rumah sakit, kepada anak yatim Baik lembaga atau pun perseorangan tetap harus diaudit. 

Oleh karena itu berasuransi syariah secara tidak langsung berderma kepada yang membutuhkan.  
Dengan demikian, yang kena musibah bisa segera move on secara ekonomi dan psikologis, dan yang berderma akan mendapat kepuasan hati karena telah menolong. Asuransi karena terhimpun dalam jumlah besar, maka dana yang terhimpun untuk saling tolong menolong pun besar. 

Dana dihimpun dari donatur kemudian dikelola oleh teman  untuk disalurkan kepada kawan yang terkena musibah. Begitu juga dalam asuransi, dana  tabarru tersebut dihimpun dan dikelola perusahaan. 

Dana tersebut berupa sedekah dan tidak boleh dimiliki oleh pengelola/ penghimpun. Hal yang sama dalam asuransi, dana tabarru tersebut tidak boleh menjadi kekayaan perusahaan. Berbeda dengan konvensional. 

Pada prinsipnya selama ada kegiatan tolong menolong, sebenarnya anda sudah melakukan kegiatan asuransi. Dengan menolong berarti anda melakukan mitigasi resiko musibah. Hal yang sama dikerjakan asuransi. Namun bedanya, asuransi dikerjakan dalam skala besar dan dikelola secara professional, teraudit dan terdaftar di lembaga resmi.  

Dengan demikian, tentu terbayang, jika semua sadar berasuransi, tentu tidak ada lagi anak yatim yang putus sekolah karena biaya, tidak ada lagi ibu yang banting tulang mengurusi anak anaknya karena ditinggal suami, semua itu secara finansial anak peserta akan diberi beasiswa sampai lulus kuliah dan istri peserta akan mendapat santunan finansial yang bisa digunakan untuk survive.

Ayo berasuransi, karena yang akan menerima asuransi itu keluarga kita, cukup 50rb/ per tahun Anda sudah bisa menjadi peserta asuransi di takaful keluarga, cukup email ke saya : romi.anshor@gmail.com

Minggu, 19 Mei 2019

SANTUNAN DAN KEMATIAN PEJUANG DEMOKRASI




Cerita pilu Pemilu 2019 terus menghiasi warta berita baik berita televisi, media cetak, maupun media online. Bisa dikatakan tingkat kematian pelaksana pemilu ini tertinggi sejak pemilu pertama di negeri ini yang dilaksanakan pada tahun 1955.
Terlepas dari hiruk pikuk politik yang ada, kematian ini menyisakan persoalan yang besar yaitu :

  • Beban ekonomi keluarga yang ditinggal sebab ada orang yang harus tetap hidup misalnya anak anak dan pasangan.
  • Pertanyaan besar apa penyebab kematian yang begitu banyak ini
Pada akhirnya, mereka yang meninggal dunia, sakit dan cacat menerima santunan dari pemerintah dengan nominal yang berbeda beda. Merujuk kepada beberapa media, berikut ini adalah besaran santunan yang diperoleh penyelenggara yang terkena resiko 
  • Meninggal dunia akan mendapat santunan sebesar Rp 36 juta
  • Mengalami cacat permanen mendapat santunan sebesar Rp 36 juta
  • Besaran santunan penyelenggara yang mengalami luka berat Sebesar Rp 16,5 juta
  • Luka biasa mendapat santunan Rp 8,25 juta


Mereka yang mengalami resiko diatas dan terverifikasi sahih, dana pun akan ditransfer ke rekening yang bersangkutan atau rekening ahli waris. Dalam hal ini, santunan tersebut layak diapresiasi, sebab hal tersebut menunjukkan adanya kepedulian pemerintah terhadap resiko yang akan di terima penyelenggara, sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga yang ditinggal.
ANGKA KELAYAKAN SANTUNAN
Keluar dari kemelut kegiatan lima tahunan demokrasi di Indonesia, kita tarik pada resiko bahwa kematian itu, siapa pun bisa mengalaminya, sebab kematian adalah sisi lain dari kehidupan. Bisa saja beragam ikhtiar sudah dilakukan baik menjaga kesehatan, menjaga pola makan, olahraga teratur. Namun bisa jadi kematian justru datang dari kecelakaan, atau dalam hal lain yang tidak terduga, oleh sebab itu banyak ahli keuangan menamanakan kematian sebagai kejadian uncertainty off occurrence and uncertainty of loss.
Kematian memang menyisakan banyak persoalan jika tidak disikapi secara bijak. Persoalan terbesar adalah persoalan keuangan. Persoalan yang pertama dibahas adalah persoalan hutang. Agak jarang memang orang pada hari ini bisa tidak memiliki hutang sama sekali, sebab beragam fasilitas hutang yang dicover dalam bentuk kredit ini sangat luar biasa variatif dengan segala fiturnya. Begitu pula dalam hal bisnis. Hutang ini perlu segera dibereskan jika tidak ingin menjadi beban yang bersangkutan.
Namun pertanyaannya adalah jika asset pun tidak mencukupi untuk mentutupi hutang, harus pakai dana apa lagi ? banyak ahli waris kemudian menolak membayar hutang karena selain tidak mau ribet juga banyak hutang tersebut tidak melibatkan keluarga sejak dari awal. Ini persoalan yang pelik secara fiqih.  
Persoalan yang tidak kalah peliknya adalah kematian kepala keluarga juga berarti kematian secara pendapatan. Terlepas apakah suami isteri yang bekerja atau suami saja yang bekerja, namun wafatnya suami dimaknai berhentinya pendapatan bulanan yang biasa diperoleh dari hasil kerja suami. Dengan kata lain, keluarga memasuki fase bangkrut secara ekonomi.
Bagaimana jika istri juga bekerja, tentu ini lain hal, sebab masih ada pemasukkan keluarga dari pihak istri, namun yang pasti seluruh tagihan tagihan ini akan ditanggung oleh pihak istri sendirian.
PERSOALAN SEBENARNYA
Sebelum terlalu jauh menohok masuk bagaimana menghitung angka kelayakan. Mari sejenak menengok ke belakang, pernah kah kita belajar ilmu ngatur duit ?  Edukasi keuangan adalah edukasi yang banyak tertinggal dibandingkan edukasi yang lain, kehidupan manusia yang sejak lahir sampai meninggal pun selalu melibatkan uang justru tidak pernah dilirik untuk menjadi bagian edukasi utama di sekolah.
Peninggalan terakhir edukasi keuangan yang masih kita ingat sampai saat ini adalah pepatah menabung pangkal kaya. Pepatah ini mungkin saja lahir saat inflasi masih kecil belum mengganas. Biaya administrasi perbankan pun masih rendah. Tapi hari ini dana tabungan siapa pun akan tergerus inflasi yang konsisten menurukan nilai mata uang, begitu pula biaya administrasi perbankan yang menarik biaya pengelolaan tiap bulan.
Dari edukasi minim ini kemudian, segala konsep manajemen keuangan untuk jangka pendek, menengah dan panjang ini habis dimakan oleh pengeluaran yang tidak produktif.
IKHTIAR PROTEKSI PEMASUKAN
Apa yang dilakukan pemerintah memberi santunan finansial kepada keluarga penyelenggara adalah upaya sederhana untuk menjaga siklus keuangan meski untuk sementara waktu saja.
Misalnya keluarga penyelenggara memiliki pengeluara rutin sebesar Rp 3,6 juta per bulan, maka dana santunan pemerintah itu hanya bisa digunakan untuk pengeluaran selama 10 bulan saja, itu pun belum dihitung biaya pemakaman dan beberapa prosesi lainnya.
Bulan bulan selanjutnya keluarga yang ditinggal harus survive melakukan segala macam ikhtiar yang bisa dilakukan untuk memastikan anak anak bisa sekolah.
Beruntung jika yang meninggal tersebut memiliki asset yang terus menghasilkan uang dalam putaran yang cepat. Misal toko, atau hal lain yang sifatnya menghasilkan. Namun saat ini agak jarang orang memiliki hal tersebut, apalagi di kota besar yang kebanyakan  bekerja di kantor.
Apa ikhtiar keluarga untuk menjadi pemasukkan tetap terjaga meski kepala keluarga wafat ? ini pertanyaan mahal jika dicarikan jawabannya. Jaman dulu saat setiap keluarga punya kolam ikan,kebun dan sawah cukup luas, mungkin asuransi jiwa tidak terlalu mendesak dimiliki, sebab warisan berupa aset tanah, sawah, kebun dan kolam ikan ini bisa dipergunakan untuk menopang ekonomi keluarga.
Tapi hari ini saat lahan semakin sempit, tentu saja wafatnya kepala rumah tangga berarti wafatnya pemasukan yang dapat menopang kehidupan keluarga.  Oleh karena itu, para perencana keuangan merekomendasikan setiap keluarga memiliki Asuransi Jiwa.
Cara kerja Asuransi jiwa itu simple, Anda ikut iuran membayar premi sesuai yang disepekati dengan nominal uang pertanggungan (UP) senilai tertentu. Saat Anda meninggal dunia dalam periode akan, maka keluarga yang ditinggal akan menerima santunan sesuai dengan UP yang disepakati.
BERAPA UP YANG PAS ?
Banyak teori cara menghitung Uang Pertanggungan yang pas, namun cara yang paling sederhana adalah dengan menghitung nominal pemasukan dikali 100. Jika pemasukan seorang suami sebesar Rp 5 juta, maka total uang pertanggungan yang harus disiapkan adalah senilai Rp 500 juta. Berapa preminya ? setiap perusahaan asuransi berbeda beda dalam mematok premi. Namun setahu saya takaful keluaga cukup murah preminya. Detailnya bisa kontak wa di 081515155106.
DAYA BELI MASYARAKAT
Menurut Larry Winget “Tidak ada yang namanya masalah keuangan, yang ada adalah masalah prioritas.”
Larry Winget  ada benarnya juga. Beberapa kali saya presentasi pentingya memiliki asuransi di setiap keluarga, salah satu perangkat desa menyampaikan keluhan daya beli masyarakat yang rendah, jangankan berfikir untuk asuransi, untuk kebutuhan sehari hari saja pun masih kesulitan.
Bisa jadi ada benarnya, namun saya coba bertanya, suami panjenengan setiap hari bisa menghabiskan berapa batang rokok rata rata setiap hari ?  jawabannya mengejutkan, rata rata 1 bungkus rokok dengan rata rata harga kisaran Rp 13 ribu.
Rp 13 ribu adalah uang yang cukup besar jika dihitung 1 bulan senilai Rp 390 ribu. Sementara Premi Asuransi Jiwa hanya Rp 250 ribu per tahun.
Nah sudah kebayang kan kenapa minim edukasi finansial ini benar benar mengerikan efeknya ? kalau begitu ayo kita hitung kembali rencana keuangan kita dan mari melakukan langkah sederhana, yaitu giat bekerja untuk menaikkan pendapatan, pada saat yang sama pangkas segera pengeluaran yang tidak efisian.  


Senin, 06 Mei 2019

MOMENTUM RAMADHAN



Setiap orang memiliki momentum untuk membangun keseimbangan. Memang Allah mengatur semua sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk harian ada sholat 5 waktu yang membuat manusia terus terhubung dengan Allah.

Segi keuangan pun begitu, ada laporang bulanan, tahunan untuk melihat seberapa sehat keuangan kita. Ramadhan pun seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki semua hal dalam hidup, baik dari sisi keimanan, kesehatan mau pun secara keuangan.

Meski yang terjadi, bulan ramadhan justru menjadi momentum belanja yang luar biasa melonjak, baik belanja baju, makan sahur atau pun untuk buka puasa. Sisi lain memang saya ada sepakatnya, di mana uang mengalir ke sanak family, dan ke warung warung desa.

Belanja memang penting, tapi efisiensi pun juga perlu diperhatikan. Saat gaji cair berikut THR nya, perhatikan beberapa prioritas berikut ini : 
  1. Pastikan bahwa dana mengalir dalam kendali, jangan brutal. Caranya sederhana, buatlah anggaran, missal untuk belanja baju, untuk bagi bagi uang ke anak anak, berapa untuk zakat, dan lain sebagainya. 
  2. Utamakan membayar tagihan tagihan bukan menambah hutang.
  3. Dari dana yang masuk, pastikan belanja saving juga. Baik untuk belanja reksadana syariah, membuka DPLK untuk pensiun atau membuka asuransi pendidikan dan asuransi jiwa. 
  4. Paling penting, kirim juga dana untuk orang tua, insyallah mereka akan memberi doa yang luar biasa. Doa dengan penuh kelapangan dada dan penuh kebahagiaan ini yang akan memberi dampak yang luar biasa cepat terkabul.

Prinsipnya habiskan saja dananya secara efektif. Dana yang terkuras habis secara efisien jauh lebih baik daripada dana yang diirit irit tapi dalam genggaman tangan, percayalah hari ini godaannya sangat banyak untuk belanja. Jadi habiskan saja uangmu untuk beli keperluan rutin bulanan, beli baju, kue, zakat infak, tabungan pension, tabungan anak dan asuransi. Di tangan cukup untuk beli pulsa, bensin dan dana secukupnya untuk jaga jaga kalau ada keperluan mendadak.

Sabtu, 04 Mei 2019

APAKAH KEUANGAN KELUARGA ANDA SUDAH TERENCANA ?



Kebanyakan dunia ilmu keuangan dikampus banyak membahas bagaimana mengelola uang perusahaan, supaya cashflow balance, dan lainnya. Namun keuangan dalam skala mikro misalnya keuangan keluarga, mengelola hutang dan melunasinya, sangat kurang sekali. Kenangan terakhir guru mengajarkan kita cara mengelola uang adalah hemat pangkal kaya, dan anjuran untuk menabung. Only that, dan tidak ada salahnya. Namun, apakah Cuma itu saja ? ternyata tidak, banyak hal yang mesti dipertimbangkan dalam mengelola dana, misalnya inflasi, keamanan menyimpang uang dan yang lainnya. 

Beberapa kali saya mencoba ngobrol dengan beberapa teman, ternyata memang edukasi tentang mengelola dana keluarga cukup minimalis, jangankan terpikir Asuransi, menabung untuk dana pendidikan pun tidak, terpikir untuk memiliki dana pension pun belum, namun aktivitas merokok dan nonton bioskop tetap jalan. Efek yang luar biasa menderitanya jika memang dana keluarga diatur secara amburadul.

Diakui atau tidak, Alasan terbanyak tidak mau ribet membuat detail pos keuangan sih karena persoalan income yang belum memadai, padahal ukuran kecukupan itu relative tiap orang dan tiap keluaga. Benar kata Larry Winget “Tidak ada yang namanya masalah keuangan, yang ada adalah masalah prioritas kamu dan keuanganmu pun akan ikut benar”.
Alasan lain biasanya khawatir tidak bersyukur. Biasanya dibilangin begini “Disyukuri ae mas, kabeh wes ono sing ngatur”

Apa jadinya kalau tidak terencana
Masalah terbanyak adalah Anda akan mengalami kesulitan keuangan, bangkrut, terlilit hutang. Hal itu biasa terjadi jika Anda tidak menyadari sinyal sinyal tidak beres dalam keuangan keluarga. Dari semua itu, masalah terbesar adalah Tidak jelasnya prioritas anggaran keuangan. Apa sinyal sinyal kalau keuangan Anda mulai berdarah darah ?

  1. Daftar tagihan mengganggu anggaran bulanan seperti anggaran dapur, listrik, spp.
  2. Banyak barang yang tidak dibutuhkan menumpuk di rumah
  3. Kesulitan membayar biaya daftar ulang sekolah
  4. Secara psikis mulai tidak balance, misal mudah tengkar dengan pasangan hanya karena uang receh.

Bagaimana Merencanakan Keuangan
Memikirkan keuangan keluarga yang terencana adalah hal kecil yang akan membuat banyak perbedaan signifikan pada diri Anda. Simpelnya merencanakan dana keluarga adalah memastikan semua pengeluaran sesuai dengan pemasukkan, semua pengeluaran terkendali mengalir ke dalam pos pos yang sudah direncanakan.  Berikut ini adalah pos yang harus dihitung untuk keluarga
  1. Kebutuhan hidup biasanya kisaran 40% dari pemasukkan
  2. Biaya masuk sekolah dan biaya daftar ulang
  3. Asuransi Pendidikan, kesehatan dan Asuransi jiwa
  4. Cicilan bulanan yang sehat tidak lebih 20% dari pemasukkan.
  5. Tabungan pension
  6. Infak Sedekah
  7. Tabungan umroh dan haji
  8. Dana Darurat
Respon terbanyak setelah mengetahui list pengeluaran keluarga, orang biasanya langsung bilang “Mas dari mana duitnya untuk segitu banyak pengeluaran?”.

Saya tahu bahwa respon ini hanya reaksi psikis yang tidak nyaman disodori banyak list pengeluaran. Tapi saran saya terima saja, kalau bias tambah itemnya  dengan sesuatu yang bermanfaat lainnya. Dengan menerima dan mengucapkan bismillah saya akan mulai memuliakan keluarga, maka pikiran anda secara kreatif akan mencari peluang income lain yang akan membuat pemasukkan Anda semakin membesar secara massif.

Pada saat yang sama, Anda mungkin sudah mulai melirik pengeluaran pengeluaran anda yang tidak efisian yang membuat Anda semakin jauh dari kata Makmur.
Sudah siapkah keuangan Anda terencana ?

Rabu, 03 Oktober 2012

KEMISKINAN

Kalau kau lahir dalam keadaan miskin, itu bukan salah kamu, tapi kalau kamu mati dalam keadaan miskin, itu salah kamu. Donald Trump

Membuat kalimat nyelekit ini memang hobinya Trump, dan memang spesialisnya di sana. Rasanya kalau sopan bukanlah seorang Trump. Meski bukan contoh yang baik untuk menjadi pebisnis, namun kata-katanya memang benar adanya.

Baik dulu maupun sekarang kemiskinan itu bukanlah hal yang membahagiakan. Dalam sisi apapun. Namun masih saja ada yang pembelaan bahwa miskin itu takdir dan perintah Tuhan yang dibalut kata Juhud.
Sejatinya Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Tentu Anda bisa membayangkan, betapa anak kita kurang gizi, pakaian istri yang kumal, serta setiap malam harus menggigil menahan angin malam yang menyelinap masuk lewat celah bilik yang belum ditutup sempurna itu.

Di mana pun tempatnya, kemiskinan identik dengan kekalahan dan ketertindasan, oleh sebab itu, kenapa para nabi selalu dikelilingi oleh orang fakir, karena nabi memang menjadikan mereka tidak tertindas, dan kemudian mengangkat mereka menjadi lebih sejahtera.

Itu yang sudah dilakukan oleh Rosul. Meski secara financial setelah diangkat menjadi Nabi, Muhammad bukanlah orang kaya, namun beliau bukan orang miskin, bahkan beliau memiliki akses yang kuat terhadap gudang-gudang kekayaan, akses yang kuat kepada militer. Hal ini membuat kesederhanaan Rosul begitu mempesona. Pernah dalam salah satu Riwayat, Rosululloh memberi kambing kepada suatu kaum yang masih musyrik, jumlah kambing itu begitu banyak sehingga memenuhi lembah perbukitan. Pimpinan suku begitu terkejut melihat cara Rosul yang berinfak seakan tidak takut miskin, walhasil dia dan seluruh penduduk suku tersebut masuk islam. Jadi menurut saya, kesederhanaan yang seperti ini yang patut ditiru, bukan justifikasi akan ketidakmampuan dan kekalahan.

Jujur, saat saya mendengar kata miskin, saya sangat benci miskin, saya tidak suka miskin. Sebab dengan kemiskinan itu keluarga berantakan, silaturahmi menjadi kaku, dan permusuhan pun tinggal menunggu waktu. Kegagalan memberi nafkah lahir kepada keluarga, sebab pendapatan dibawah 1 dolar perhari, mau beli bensin perlu banyak pertimbangan, begitu juga pulsa, semuanya penuh kesultan dan ketidak berdayaan. dan itu semua pernah saya alami.

Dulu, Kakek saya termasuk orang yang berada di kampung saya, beliau juragan becak dan penjahit. Dari becak itu, beliau punya karyawan. Perjalanan waktu yang begitu lamban menurut zaman saat itu, dan kemiskinan pun merambah secara perlahan. Becak pun satu persatu dijual, tanah pun sudah tiada, sementara itu mesin jahit pun harus disimpan, karena kekuatan kakek tidaklah sekokoh dulu.

Beberapa tahun yang lalu, kakek meninggal dunia dengan kondisi apa adanya, saya tidak bisa hadir karena saat itu menganggur dan sangat sungkan meminta uang kepada istri. Kepergian kakek yang begitu saya banggakan, yang pernah memberi saya celana dan kemeja, yang sering berkunjung bakda maghrib saat beliau masih kokoh, harus saya antar dengan tangisan dari jarak 600 KM dari makamnya. Tangisan itu selalu mengiringi disetiap kesendirian saya sampai beberapa hari lamanya bahkan sampai saat ini jika saya mengingatnya, tapi inilah hidup, saya harus menguat-nguatkan diri untuk menghadapi peristiwa itu.
Kini nenek pun mengalami hal yang sama, dengan kondisi yang amat menggantungkan dirinya kepada anak-anaknya, tentu bukanlah pilihan yang baik. Beruntung anak-anaknya menikah dengan lelaki yang secara financial cukup, namun ketergantungan nenek kepada anak-anaknya membuatnya tidak bisa bebas berbuat menggunakan uangnya.

Lebaran tahun 2011 kemarin adalah lebaran yang amat mengharukan, di mana saya membawa dua anak yang masih kecil, masih menganggur, hampir seluruh biaya dari istri. Sementara itu melihat nenek yang begitu renta, hormon prolaktin saya tiba-tiba melonjak, Air mata merembes begitu deras, namun tangisan ini bukanlah tangisan karena rindu, namun tangisan yang masuk akal untuk seorang lelaki, yaitu tangisan ketidakberdayaan. ketidakberdayaan saya untuk membahagiakan nenek yang begitu perhatian kepada saya di saat nenek masih jaya, yang selalu tergopoh-gopoh saat saya sakit sesak. saat itu saya benci sekali sama diri saya. Peristiwa itu menyakitkan hati saya, karena itu saya benci miskin sebenci saya kepada peristiwa menyakitkan itu.

Saat kakek dari bapak saya meninggal, pembagian warisan sudah jelas, tanah pun sudah tertata. Menarik rasanya hidup ini jika saya bisa menyewa tanah kepada bapak sendiri, tentu dengan harga yang standar, saya anggap sebagai bakti saya kepada bapak. Namun kabar bahwa tanah itu dijual oleh salah satu saudaranya tanpa konfirmasi itu membuat saya urung lakukan itu. Hal sebelumnya investasi bapak dari pabrik kain diambil begitu saja tanpa penjelasan dan tanpa komunikasi. Beruntung bapak memilih untuk tidak menggunggat di pengadilan dan lebih beruntung lagi ekonomi bapak masih kokoh. Sementara saudara yang mengambil itu hingga kini masih terganjal hutang yang menggunung. Bagi saya Ekspresi orang yang punya banyak hutang adalah ekspresi yang mudah diterka, dan ekspresi itu selalu saya temukan saat saya bertemu dengannya. 

Sampai saat ini, hubungan keluarga saya dengan saudara bapak itu masih terasa kaku, walau lebaran tetap saja bersua. Saya tidak nyaman dengan kondisi ini, namun suasana hati saya tetap tidak bisa diatur senyaman mungkin dengannya. Benar juga yang dikatakan Carole Wade dan Carol Tavris; rasa sakit itu bukan hanya pekerjaan inderawi, sebab setelah stimulus rasa sakit itu telah hilang, namun sensasinya tetap saja bertahan dan kronik. Kalau bukan Rosul yang meminta umatnya untuk memaafkan, tentu rasa sakit itu akan saya pelihara.

Beberapa tahun yang lalu, saya selalu rutin berkunjung kepada saudara bapak yang letaknya jauh dari tasikmalaya. Secara ekonomi beliau yang paling mapan. Pendapatan perbulan bisa sampai 11 juta bahkan lebih. Belum dari isterinya. Bagi saya hingga kini, jumlah 11 juta masih saja terasa besar.

Ketika saya berbincang tentang mobil, istrinya dengan begitu yakin bicara “Rom, sekarang saja saya bisa beli mobil”. Bahagia sekali rasanya hati saya saat saudara memiliki mobil. Beberapa saat kemudian, ternyata bapak punya mobil. Tidak terlalu bagus, hanya Suzuki escudo. Ekspresi merasa tersaingi terasa sekali apalagi diperkuat dengan statement yang mengarah ke sana dengan memberikan fakta yang menunjukkan uangnya banyak, walau saya tahu bahwa ada bagian dari masa lalunya yang penuh tangisan, atas tragedy financial yang dihadapi suaminya itu, dulu, saat belum sejaya saat ini.

Dengan kondisi keuangan saya yang morat marit saat itu, saya hanya bisa diam, walau saya mengerti bahwa Oxytocin saya reaktif sekali saat itu, saya dipaksa untuk menerima kenyataan. Walau menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang sudah tidak bisa lagi untuk berkembang. Tapi itulah yang terjadi, dan saya merasa hampa. 
Berangkat dan hal itu kemudian, saya ingin sekali bekerja, ingin sekali memiliki uang dan ingin sekali memberi.

Mengaca kepada pengalaman saya dan apa yang saya saksikan, sejatinya persoalan kaya miskin bukanlah persoalan takdir. Sebab kita tidak tahu apakah kita ditakdirkan kaya atau miskin, semuanya berada pada posisi “mungkin”. Yang bisa kita fahami dari takdir adalah yang telah terjadi. Dengan kata lain kita tahu nasib kita saat ini sedang miskin, entah besok lusa, kita tidak tahu.

Jika anda menilai anda bernasib miskin, saya seharusnya kagum, dan mengucapkan selamat, sebab anda berarti memiliki akses ke lauh mahfudz yang dijaga ekstra ketat itu. Namun ucapan selamat itu tidak akan pernah saya lakukan, sebab pengakuan akses terhadap lauh mahfudz hanya bisa dilakukan oleh penipu amatir yang CC otaknya kecil.

Jadi pengakuan bahwa miskin itu adalah nasib, sebenarnya bentuk penipuan naïf yang datang dari jiwa-jiwa kerdil yang merasa kalah dalam menghadapi imajinasi tsunami kehidupan, padahal jika ditelisik lebih dalam, itu hanya pukulan ombak yang disapu angin sepoy.

Kalau begitu, di mana persoalannya kemiskinan sebenarnya…? Sebenarnya persoalan kemiskinan diawali dari dinamika psikologis yang berefek jauh terhadap perilaku yang mendorong kepada kemiskinan, terutama pada sikap bahwa kaya itu hal yang jauh di sana dan tidak terjangkau. Sikap ini yang membawa perilaku untuk bersikap biasa, tidak ada ambisi dan tidak ada impian yang menggairahkan.

Nun jauh di sana, saat Nabi dan Para kaum muslimin berhijrah, Abdurrahman bin Auf. Sosok yang putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya. dipersaudarakan dengan sahabat Anshor yang bernama Sa’ad bin Rabi.

Konon Saad ini orangnya kaya raya, memiliki kebun dan dua isteri. Atas kepemilikan itu, saat menawarkan kebun dan salah seorang isterinya. Namun tawaran ini ditolaknya dengan penolakan yang elegan “tunjukkan di mana pasar..?”

Nah jika ingin membangun Agama ini dengan kekayaan, awali dulu dari sikap bahwa kaya itu dekat dengan saya dan saya akan menjadikan kekayaan itu tidak lagi dekat, tapi ada di genggaman tangan. Jika sudah demikian, Anda bisa menggaji para guru dengan gaji yang layak, membuka lapangan kerja untuk si miskin, membiayai caleg yang idealis dan menjewer bupati yang pikun akan amanahnya. Kekuatan ini yang bisa masuk ke semua lini, karena semuanya butuh logistic.

Nah sampai akhir tahun ini saya berazam untuk menaikan pendapatan saya 2 kali lipat. Ya dengan dimulai dari pikiran bahwa pendapatan sebesar itu adalah dekat dengan saya, tugas saya Cuma sederhana, yaitu menjadikan kekayaan yang saya persepsikan dengan itu berada di genggaman saya dengan cara bekerja keras dan mencari muka dihadapan Allah.

Langkah selanjutnya jika Anda sudah memiliki persepsi yang baik tentang kedekatan diri Anda dengan kekayaan, maka selanjutnya adalah membangun kedisiplinan yang kuat, baik dari rutinitas keseharian, kedisiplinan mengelola keuangan, bahkan kedisiplinan dan membangun wawasan keuangan.

Katanya sih menurut Chappy hakim, para pebisnis dan para memegang perusahaan besar  di singapur adalah Ex tentara, ya mereka tentara yang memilih untuk pension dini dan kemudian disekolahkan di  Amerika atau Negara Eropa lainnya untuk mendapatkan bekal ilmu manajemen dan atau finansial. Seusai wisuda, mereka langsung mendapatkan posisi-posisi penting dalam jajaran industri strategis nya. Itu sebabnya pebisnis singapur memiliki ketangguhan dalam berdagang.

Jadi jika Di Indonesia, standar kemapanan itu jika perutnya sudah gendut, maka di singapur justru akan jarang melihat mereka gendut, sebab mereka dituntut untuk sehat dan lincah.

Nah kalau persoalan miskin itu diawali dari dinamika psikologi naïf yang dibiarkan menguasai jiwa, maka persoalan kekayaan justru diawali dari keberanian untuk menjadi orang kaya. Keberanian itu bukan hanya datang dari kebencian terhadap ketidakberdayaan, namun hadir dari keyakinan bahwa Allah yang memiliki bentangan langit beserta benda-bendanya, pemilik bumi dan segala tambangnya, pemilik segala peluang rezeki dan pemilik sumber-sumber rezeki yang dibutuhkan, dan Allah sangat bisa untuk memberikan itu semua kepada kita, tanpa sedikit pun mengurangi kekayaanNya.
Tentu pandangan itu subjektivitas saya, dan Anda saya yakin punya pendapat sendiri.

SEPTEMBER
Setelah berbulan-bulan terlantung-lantung dalam ketidakberdayaan, saya tetap saja tidak ingin memperlihatkan kemiskinan saya, saya khawatir banyak yang terganggu. Saya setiap pagi keluar pakai motor supaya dikesankan mertua kalau saya bekerja. Dan saya pun selalu memakai baju rapi, seakan saya memang memiliki penghasilan.

Walau demikian, saya berupaya untuk bekerja, sebab kewajiban manusia kan bekerja. Saat itu saya pun membuka EO, saya kontak trainer yang saya kenal dan tentu yang bisa saya bayar murah. Yayasan penyelenggaranya pun saya pinjam, pokoknya semuanya saya pinjam, mulai dari stempel, kop surat, tempat alamat bahkan gaji trainernya pun saya pinjam dulu. Konsep saya buat dan surat-surat saya sebarkan sendiri. Sayang sekali hasilnya kurang menggembirakan. Hanya balik modal saja, tidak untung.

Setelah itu saya jualan kripik yang saya ambil dari tasik, modalnya saya pinjam ke Bapak sebesar 5 juta. Tentu meyakinkan orang adalah keahlian saya, nah salah satunya saya lakukan ke Bapak saya, dan bapak saya pun yakin kepada saya. Pengiriman kripik itu dilakukan melalui kereta api. Dan saya panggul sendiri kripik itu, saya masukkan ke dalam plastic yang kecil kecil yang kemudian distaplesi, atau dipanasi oleh api lilin. Besoknya saya kirim satu per satu ke warung, itu saya lakukan di malam hari.

Keuntungannya pun tidak begitu baik. Modal amblas, karena mental saya tidak siap untuk menjadi pedagang asongan. Saya malu sekali kepada Bapak karena usaha gagal dan uang pun tidak kembali, namun saya komit untuk mengembalikan. Dari sini saya belajar bahwa kemampuan untuk menahan diri untuk tidak popular adalah keharusan, dan disinilah letak fungsinya, supaya tidak telalu sakit disaat jatuh.
Bulan cerah pun hadir menyapa. saya diberi tahu Pak dammar, Pemilik Koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) Amanu bahwa ada penerbit buku yang membutuhkan tenaga marketing. Penerbit buku itu adalah PT Rumah Pensil Publisher.

Insight saya berkata bahwa inilah momentum yang baik. Saya pun kemudian membeli buku contoh dan memang bukunya bagus. Dengan kemampuan persuasive saya ditambah dengan mobilitas saya yang bisa diandalkan, saya pun menjadi member dan reseller setelah 1 hari ikut training marketing di malang dan disadarkan tentang pentingnya kekokohan ekonomi. self-efficacy saya pun hadir menyeruak dari dalam jiwa saya.

Saya pun mulai menjajakan buku, dari sekolah ke sekolah, dan person ke person, ya saya jadi sales yang berkekuatan penuh, Karena tahu rasanya menjadi kepala keluarga yang lemah secara financial, karena tahu rasanya tidak ada uang di dompet, karena saya tahu bahwa ketidakmampuan membelikan jajan untuk anak amatlah menyakitkan. maka saya pun menjual sekuat tenaga saya, tidak peduli Dicampakkan oleh guru agama, tidak peduli dicampakkan oleh kepala sekolah swasta. pun beberapa kali harus tertidur sebentar di pinggir jalan, karena begitu lelahnya berdagang, saya harus rela malam-malam bersama isteri naik motor kehujanan dan hampir tabrakan karena banyak mengambil buku dari Malang untuk saya jual lagi.

Dengan buku itu setiap detik saya gunakan untuk berjualan, setiap sms saya selipkan usaha saya. Adrenalin saya begitu mendidih, resiliency saya digedor. Saya bekerja seperti orang mengamuk yang tidak tahu lelah, meninju masa lalu saya yang sempat miskin itu. Dalam setiap doa saya selalu selipkan kata-kata “Ya Allah Maha pemelihara setiap makhluk, maha penyayang setiap hambanya dan maha penjamin rizkinya. Semuanya engkau beri makan, semuanya engkau beri Rizki, orang kafir engkau beri rizki dan rizki itu mereka gunakan untuk berbuat kedzaliman. Orang sombong engkau beri kesempatan dan kesempatan itu mereka gunakan untuk membenarkan kesombongan mereka. Engkau mengetahui bahwa sebaik-baiknya harta adalah harta yang ada di tangan orang beriman. Hari ini ya Allah engkau mengetahui setiap langkah perdagangan saya, setiap barang yang saya jual itu baik dan bermanfaat, kerahkanlah seluruh potensi rizki itu menghadap saya.

Permohonan saya dikabulkan, Mungkin Allah iba melihat doa hambanya yang sedang susah, mendengar rengekan hambanya yang sedang ingin sukses,  Penjualan pertama, pendapatan saya 3 juta. lompatan yang luar biasa, dari tidak memiliki pendapatan menjadi pemilik pendapatan, dari tidak punya menjadi punya. Saya kaget luar biasa akan keajaiban ini. Recovery financial keluarga mulai dilakukan. Seluruh hutang konsumtif saya bereskan. Anak saya pun saya sekolahkan, motor saya lunasi, dan yang paling penting wibawa saya kembali tegak dihadapan mertua.

Rasanya memang berbeda saat saya masih terjebak dalam kesulitan ekonomi, saya sangat temperamental, seluruh peristiwa selalu saja saya artikan sebagai cemoohan atas ketidakberdayaan saya. Hubungan saya dengan anak-anak begitu renggang, sampai anak saya tidak mau mendekati saya. Berat rasanya. Dan Alhamdulillah kini hubungan saya kembali baik, dengan anak-anak dan istri kembali dekat, tidak lagi temperamental seperti dulu. Saya merasa berdaya dan Alhamdulillah bisa mengeluarkan beberapa kawan saya dari jerat kemiskinan, tentu hal ini sangat saya syukuri.

Atas segala kebaikan inilah kemudian saya merasa bahwa saya harus berbuat lebih banyak lagi untuk membangun kebaikan untuk banyak manusia.

IMPIAN
Jika kau berfikir tentang diri kamu, Jangan pernah kamu berfikir realistis, sebab kenyataannya bangsa besar adalah bangsa yang tidak pernah realistis dalam menatap masa depannya. 
Itu sudah dilakukan oleh Diponegoro, pilihannya untuk melawan Belanda bukanlah pilihan realistic. Peperangan ditabuh dan dipuncak peperangan belanda harus mengerahkan 23.000 serdadu. Suatu hal yang tidak pernah terjadi di area yang sempit seperti di pulau jawa. Gabungan berbagai taktik militer yang sudah dikenal saat itu.

Saya pernah melewati jalur diponegoro, dalam kegiatan kemah tahunan yang acara puncaknya harus berjalan 12 jam mulai sore sampai siang. Melihat tracknya yang terjal mengingat paru-parunya yang perfungsi hanya satu, air mata pun meleleh tak tertahankan. Jika anda pernah melalui jalur itu, anda akan mengalami pengalami mistik seperti yang saya alami. Kecuali jika hati anda memang sudah bebal.

Dan kenyataan realistis itu pun terjadi, Diponegoro ditangkap di Magelang dan kemudian diasingkan di Makassar. Mungkin saja jika kita punya impian dan kejarlah impian itu sekuat mungkin dan janganlah melihat kebelakang. Mungkin impian itu tidak akan terwujud, namun kita tidak akan menyesal.

Tapi itu kemudian membangun arketif bagi generasi setelahnya, bahwa kemerdekaan bersikap harus ada dalam ruang terdalam jiwa manusia yang tidak mau tunduk kepada intimidasi dan tidak mau menjadi budak. walau itu tidak ada lagi jalan untuk lari. Pulau jawa kembali berdarah saat pertempuran di Surabaya dan di Jogjakarta. 
Pikiran saya yang terlalu serius, dan pengalaman yang pernah saya alami benar-benar mengekstraksi dalam wujud kebencian saya kepada kemiskinan dan kelemahan, yang kemudian hadir dalam sikap ingin mandiri dan memandirikan.

Beruntung beberapa tahun yang lalu saya mendapat tulisan tentang proposal hidup. Hal ini kemudian diperkuat saat saya mengikuti training tentang proposal hidup beberapa bulan yang lalu di Malang. Saya kembali disadarkan pentingnya membangun perencanaan yang tertulis untuk mengisi hidup saya yang hanya satu kali saja.

Dalam pelatihan itu, saya menangis, tidak peduli siapa dibelakang dan di samping saya, tidak peduli kawan saya menyaksikan atau tidak dan tidak peduli apa pun, selain kata-kata trainer itu yang benar-benar meninju batin saya saat itu. Teriakan-teriakan yang menyentuh kalbu itu memborbardir saya yang alpa oleh tujuan hidup saya. Betapa Allah terlalu baik, dengan memberi rizki yang dipermudah, diberi istri yang pengertian dan solihah, dikaruniai anak, dan disimpan dalam garis keturunan yang terhormat.

Bukan tidak mungkin saya akan kembali ke dalam kemiskinan kembali, sebab dunia bisnis adalah dunia yang penuh resiko, namun saya harus selau berbicara kepada sebesar apa pun masalahnya, bahwa saya punya Allah, dalam wirid harian disebutkan jelas “ Ya Allah, engkau yang tidak akan ada yang menolak apa pun pemberian engkau, dan tidak ada satu pun yang mampu memberi kepada siapa pun yang kau tolak”.  
Proposal hidup pun terbuat sudah, meski belum sempurna, namun itu sudah lompatan yang baik, dan satu persatu sudah terlihat nyata hasilnya. Kawan saya pun demikian, saya ajak untuk membuat proposal hidup, dan hasilnya sudah nyata, rumah yang sekian tahun tidak pakai kramik, kini sudah akan dikramik, hidupnya lebih cerah.

Memang tidak semua orang saya ajak bicara hati ke hati, sebab bicara financial sering harus hati-hati. Keliru bahasa urusannya panjang. Saya baru saja mengalami itu. Saat itu kawan saya sedang menganggur, pendapatannya kelihatannya tergantung pada gaji istrinya. Dengan niat ingin membantu, maka saya tawarkan bisnis haji umroh, yang diawali dengan hadist imam baihaqi yang intinya bahwa segala biaya haji umroh itu akan diganti oleh Allah. Sms say akemudian dijawab dengan pertanyaan yang mendetail; hadist itu diambil dari mana dan bagaimana derajat kesahihannya?. Kebetulan memang orangnya itu kalau ngomong nyelekit. Tapi ya sudahlah anggap saja sebagai motivasi untuk belajar hadist lebih giat lagi.

Kembali ke soal impian, memang ongkosnya besar, sebab anda akan mendapati justru orang yang paling kuat cemoohannya terhadap impian anda adalah orang dekat anda. Namun di sinilah ujiannya, anda akan melihat siapa yang menjadi kawan anda dan siapa yang bukan. Sekaligus menjadi Lup yang dapat melihat siapa saja setan yang berwujud kawan itu.

Sekeras apa pun cemoohannya, itu selalu datang dari luar. Dan Anda akan tahu, Anda punya mimpi akan dicemooh sebagai pemimpi, sementara saat Anda tidak punya mimpi pun anda akan dicemooh juga sebagai lelaki yang tidak punya masa depan. Dan itu semuanya orang lain yang melakukan. Tantangan terbesarnnya justru tidak disana, tantangannya adalah terletak pada ketahanan Anda dalam menahan segala upaya untuk kembali menjadi manusia biasa.