Rabu, 16 Juni 2021

TONGKAT NABI MUSA DAN KETAPEL NABI DAUD

Setiap Rosul diberi kelebihan oleh Allah sebagai sarana untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Cerita heoik yang bisa kita temui adalah bagaimana Nabi Musa yang dibekali oleh Allah beberapa mukjizat salah satunya Tongkat yang dipakai sebagai bukti kebenarannya dalam menyeru Firaun dan kaumnya.


Pada mata rantai risalah selanjutnya, Nabi Daud dipilih dengan banyak kelebihan, kecerdasan, suara merdu, kerajaan berkumpul pada dirinya dalam 1 genggaman, proses melengkapi perjalanan menyampaikan tauhid salah satunya bermula saat pasukan Raja Thalut dan Jalut saling berhadapan untuk bertempur. Raja Jalut terkenal berbadan besar, kokoh, ahli tarung. Tidak ada satu pun yang berani maju kecuali Daud yang tubuhnya lebih mungil dari Jalut. Secara timbangan memang tidak fair, namun kalkulasinya tidak pada rasio bobot, Daud memilih resiko untuk mendapatkan hasil yang lebih besar.


Fokus pada kelebihan ini yang digunakan Daud saat itu, kelincahannya dalam bergerak cukup menyulitkan jalut yang berbobot besar namun kurang lincah. Hasil pertarungan ini ditutup oleh Daud dengan tembakan yang tepat mengenai kepala Jalut, rubuh dan rontok mental pula pasukannya itu.


“Saya tak pernah melihat beban dari kegagalan melakukan tembakan, kalau kita memikirkan bebannya kita akan selalu melihat hasil negatifnya,” ungkap Michael Jordan.


Seperti halnya Nabi Musa, Nabi Daud, dan siapa pun itu, setiap orang diberi bekal oleh Allah untuk bisa menjalani hidup sebaik mungkin. Bekal itu berupa potensi unik terbaik yang jika digunakan akan memberi kontribusi yang baik apakah secara finansial, politik, penemuan penemuan ilmiah, peran ketokohan atau apa pun itu.


Bekal tiap orang berbeda beda, ada yang berupa kemampuan kaligrafi yang baik, ada juga dalam bidang olahraga ada juga yang memiliki kemampuan komunikasi. Semua kemampuan itu bisa diderivikasikan lagi untuk memahami kemampuan kita yang lebih detail.


Bagi kamu misalnya memiliki kemampuan olahraga, tidak mungkin semua olahraga bisa mengantarkan kamu menjadi yang terbaik, sub bidang olahraga banyak sekali, apakah di bidang sepakbola, mma atau malah di bidang wasitnya, bahkan menjadi event organizer nya.  


Orang yang memiliki kemampuan komunikasi baik perlu dicek lebih detail sisi mana yang bisa menghantarkan kita menjadi yang terbaik, apakah menjadi orator, Negosiator, atau malah menjadi politisi.


KEKUATAN TEKAD

Okey, anggap saja kita tidak punya akses apa pun sehingga kita tidak mengerti diri kita sepenuhnya. Bukan dari orang kaya, bukan dari kalangan terpelajar, bukan pula dari kalangan penguasa, semuanya terbatas sekali. Lahir dari keluarga yang terbatas ini memang perjuangan betul. Bila tidak memiliki apa apa, sebenarnya manusia memiliki potensi terakhir yang diberikan Allah kepada kita, yaitu Tekad, alias Azam.


Rasanya kita perlu sejenak menelisik proses seorang Ar Robi’ bin Sulaiman, seorang santri langsung berguru kepada Imam Syafii. Kapasitas seorang Imam Syafii rupanya belum mampu membuatnya memahami pelajaran yang disampaikan sang guru. Bahkan pembelajaran private antara Ar Robi dan Imam syafii tidak pula membuatnya memahami pelajaran.


Kekuatan tekad yang Ar Rabi langitkan melalui doa, amal shaleh dan ketaatan rupaya membuahkan hasil, beliau yang menjadi muadzin di Mesjid Amru bin Ash ini kemudian menjadi seorang alim yang kredibel, membantu Imam Syafii menulis kitab fenomenal al Umm.


Beruntung kita berada dalam mata rantai sejarah yang luar biasa, dan sejarah ini hadir untuk memberi semangat zaman dari generasi  ke generasi.


CARA MENGETAHUI

Dengan perkembangan ilmu tentang manusia, terutama dalam pemetaan minat, bakat sudah banyak berkembang, bahkan lebih jauh dari itu, beberapa konsultan malah memiliki aplikasi untuk memetakan perjalanannya. Ibarat perjalanan menuju makkah, konsultan itu sudah tahu jalur tercepat menuju ke makkah, kurang lebih begitulah ilustrasinya.


Terlepas dari pro kontranya, saya sendiri cukup sepakat dengan konsultan tersebut, setidaknya sebagai informasi awal ke mana arah perjalanan hidupnya.


Bagaimana cara mengetahui potensi terbaik kita ? sebenarnya banyak cara, tentu terbaik adalah menemui ekspert dalam pementaan potensi, namun secara mandiri pun bisa, yaitu dengan cara cek dalam aktivitas kita, mana kegiatan yang benar benar kita begitu mengalir bersama waktu bersatu dengan alam. benar benar tidak terasa tiba tiba sudah habis, tiba tiba sudah larut malam, anda begitu menikmati dan tiada lelah sedikit pun.  


Sinyal sinyal ketapel Daud itu sebenarnya sering kok ditampakkan, namun rata rata tidak terlalu peduli, bahkan mengabaikan begitu saja. Jika anda pernah melakukan satu hal, dan, segera tandai pekerjaan itu dan tekuni, bisa jadi dari sinilah  ledakan potensi anda, bisa juga dari sini narasi kesejarahan anda dimulai.  


Teringat salah satu coach bilang gini, masalah manusia itu sumbernya dari dalam dirinya sendiri, namun seringnya manusia mencari jalan keluar, makanya gak ketemu. Semua ada di dalam, semua sudah tersedia lengkap. Tinggal kamu mau gak akses ke dalam. Imam Sahl bin Abdullah At Tastari, mengatakan Barang siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.


Bener juga ya, jalur kemakmuran, keberlimpahan, kebahagiaan itu begitu dekat dengan diri kita, bahkan itu ada di dalam diri kita, tinggal kita mau tidak menggunakannya. Itu titipan dari Allah.


Memaksimalkan anugerah titipan Allah dalam jalan kebaikan adalah tanda kesyukuran kita kepada Allah.


Semakin benar dengan apa yang disampaikan seorang Mursyid, bahwa syukur adalah lelaku untuk naik level, setelah melewati proses sabar, maaf, dan ridlo.  Cek saja dalam surat Ibrahim ayat 7.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Seberapa detail Kita mengenal diri ya tergantung seberapa intens kita berinteraksi dengan diri kita secara penuh, dan langkah pertama untuk mengenal diri adalah mencintai diri sepenuhnya sebagai wujud kita mencintai kita sebagai makhluk Allah.


Setelah itu akan terbuka jalan jalan untuk mengenal diri, setelah kita lalui jalan mengenal diri, kemudian akan terbukalah jalan jalan untuk menjadi yang terbaik untuk diri agama dan bangsa, ikuti saja proses nya, nanti akan dihantarkan prosesnya, apakah nanti kamu akan menjadi pengusaha, akademisi, atau politisi. Atau apa pun itu.


Jadi, perlukah kita mengulang ngulang doa kita, “Ya Allah, bantulah kami dalam berdzikir, dan bersyukur  serta kebagusan dalam beribadah kepada engkau”. Saya rasa sangat penting sekali.

Selasa, 23 Agustus 2011

PR TERTINGGAL ANGGOTA LEGISLATIF


Orangtua yang telah berumur lebih dari 60 tahun itu dengan suara parau mengumpulkan kadernya untuk mengerahkan kadernya untuk memenangkan salah satu calegnya, dengan nada yang meninggi namun nafasnya terengah-engah dimakan usia, dia meminta teamnya untuk mengingat kembali materi jihad yang telah dipelajarinya.
Ini adalah jihad politik, saudara….!!!
Suaranya tentu tetap tinggi dengan nafas yang terengah-engah, usia 72 tahun telah jujur menampakkan aslinya. Para peserta saat itu dengan cermat mendengar, sebagian ada yang bingung dari mana duitnya, sebab kebetulan calegnya itu memang orangnya penuh semangat namun kantongnya pas-pasan.
Ditempat lain, seorang kawan saya yang bekerja di dunia kesehatan, bersama teamnya yang kompeten dalam mengusir jin, dan yang satu lagi meluruskan tulang yang keliru arahnya, ada juga yang ahli dalam dunia obat-obatan modern bekerja keliling desa menyuntik para janda tua, lelaki katarak, gadis-gadis yang sakit mag atau bayi kurang gizi, ada juga ibu-ibu yang sakit demam, sambil menyuntik dan memberi obat gratisan, rombongan kawan saya itu tidak lupa mengingatkan pasiennya untuk mencoblos jagoannya. Tanpa ada paksaan sedikit pun.
Di waktu yang lain, tepatnya lagi di malam hari, seorang lelaki paruh baya ditemani kawan-kawan seperjuangannya harus berjibaku dengan dinginnya malam, hanya untuk menempelkan stiker yang bergambar kawannya yang sedang menjadi caleg itu, ya hanya dengan peralatan sederhana, dengan lem yang dia beli dari warung sebelah, kemudian satu persatu kertas yang bergambar kawannya itu ditempel di setiap sudut jalan, yang kira-kira dapat dilihat oleh banyak orang. waktu istirahatnya dia simpan, untuk satu harapan yang lebih baik. Sementara itu si calon tidak muncul, kuat dugaan kalau tidak sedang rapat, ya mungkin sedang beristirahat mengumpulkan kekuatannya untuk kampanye lagi esok hari.
Cerita itu terjadi di Tahun 2009, sebagai tahun yang menjadi penentu babak sejarah Indonesia, di tahun itu ada pemilu legislative kemudian di susul pemilihan presiden. Keinginan yang terpendam dari orang-orang Indonesia saat itu begitu optimistis bahwa setelah pileg kehidupan mereka akan membaik, minimal itulah yang selalu dinyanyikan oleh team sukses sambil berbusa-busa. Dan benar, busanya itu mengandung bisa yang menyengat para pendengarnya yang sudah terkantuk-kantuk itu.
Tapi setelah itu…
Setelah tahun 2009 itu berlalu, optimism pun tergerus secara perlahan, indahnya janji yang dikarang para caleg beserta team sukses itu seakan-akan belum menampakkan wujudnya, baik jihad atau pun tanpa. Seakan cerita itu lahir hanya dari sebuah ilusi pikiran semata, alhasil, para pendukungnya itu pun kembali ke dalam dunianya, dunia nyata yang penuh perjuangan sambil terseok-seok melupakan janji yang dikemas dalam cerita sang caleg itu, terselip dalam hati mereka rasa sedih, dan merasa dibodohi.
Bagi mereka yang menjadi tukang tabor pellet ikan, dia kembali ke profesinya, lelah menunggu perbaikan, pun juga demikian mereka yang menjadi bakul ayam, tukang bikin jamur putih, dan bakul buntut sapi. Para team sukses berbusa-busa tadi yang diprediksikan nasibnya akan membaik  pasca pileg, ternyata bernasib sama, nasibnya ternyata tidak ikut tergeret seperti halnya jagoannya yang dia bela itu. dia kembali kedunianya yang dulu, jadi tukang ngarit, atau menjadi guru ngaji.
Atas dasar itu kemudian Cerita 2009 ini yang seharusnya berhenti di tahun itu juga, ia kembali berteriak di tahun ini, tahun 2011, baik kisah andi nurpati, dewi yasin limpo (DYL), Arifinto, dan serba-serbi lainnya. seolah punya nyawa sendiri.
Tentu saya tidak hendak membicarakan mereka, sebab pengamat yang lebih pintar banyak mengulasnya, saya hanya ingin mengulas kembali sisi manusiawi yang luput dilihat media, karena tidak signifikan menurut kalkulasi pasar. Ya cerita itu ada di sudut-sudut desa yang mereka ceritakan kembali kepada saya.
Rom, aku kok kesel ya punya tetangga anggota dewan
Ungkapan itu meluncur bebas dari mulut lelaki berusia kurang dari separuh abad itu.
Dia baru saja beli motor baru, beli tanah lagi, sekarang malah punya mobil anyar. apa gak mikir ya team suksesnya dulu kayak pak tsalast yang sampe sekarang susah dan gak punya kerjaan tetap…?
Saya bingung jawabnya karena memang persoalan pikiran hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Tapi ungkapan itu meletupkan memori lama, kawan saya yang menjadi caleg tapi gagal kini harus berjibaku membayar hutang-hutangnya yang sudah berada di ambang waktu itu. Namanya Bu Nushrah. Dihadapan kawan-kawannya dia sempat menangis karena beban itu harus dia tanggung sendirian.
Jauh-jauh hari sebelum 2009 itu terjadi, di sudut ruangan sederhana, salah seorang ustadz memaparkan panjang lebar tentang organisasi islam, yang didalamnya kuat sekali unsure ukhuwah, ta’aruf dan takaful, beliau kemudian menguatkan dengan satu hadist bahwa seorang  muslim dengan muslim lainnya seperti satu jasad, jika satu sakit maka bagian lainnya akan ikut merasakannya.
Namun sudahlah…. sirah dan hadist itu hanya untuk materi pengajian saja, sebab untuk membawanya dalam dunia ini membutuhkan kompetensi tertentu yang tidak semua bisa orang menguasainya, butuh jam terbang dalam dunia praktek yang lama. ungkap saya dalam hati, menghalau segala macam pikiran yang mulai meneracau kemana-mana.
Namun pikiran saya yang meneracau itu lagi-lagi terlalu perkasa untuk ditenangkan, dia kembali dengan penuh kekuatan mengumpulkan memori yang terkait, ingatan saya pun meloncat ke salah satu sekolah, seorang kepala sekolah yang meminta saya datang ke sekolahnya itu memperbincangkan anggota dewannya yang dinilai leletan kalo kerja, pada saat yang lain, kawan saya yang berdomisili di wilayah barat pun tidak kalah sewotnya, proposal sekolahnya harus dititipkan ke Aleg yang bukan dari partai jagoannya.
Suara fals ini selalu mengkhawatirkan saya jika terjadi merata dan itu kenyataannya. Hampir-hampir saja semua dialog orang yang mengerti selalu berbicara tinggi, mulai dari persepsi high profil, susah dikasih tahu, kerja lamban, sampai susah dimintai bantuan.
Rom, anggota dewan saya yang sekarang ini kok gak tahu nongol di Koran ya…. Ungkap salah satu kawan saya, seorang PNS namun loyalis partai lokal. Di mata saya ungkapan itu sadis.
Ya aku gak ngerti Tanya saja yang bersangkutan… jawab saya
Jawaban itu sekaligus menutup pembicaraan politik dan meloncat ke dalam dunia bisnis, dunia penuh dengan gairah, ambisi dan duit, dan itu yang bikin hidup semangat.
Kenapa kemelut ini bisa hadir menerabas segala norma yang melarang segala bentuk konflik yang berakar dari kebencian. Sangat mungkin diawali dari disparitas antara harapan, jargon dan ajarannya terlalu jauh berjarak dengan kenyataannya. Apalagi secara psikologi, manusia religi biasanya lebih memilih untuk diam daripada “jalukan”. Namun psikologis ini bukan tidak dimengerti, namun sangat mungkin tidak dipakai, karena konsekwensinya berat untuk waktu, tenaga, pikiran dan kantong.
Sangat disayangkan jika cerita indahnya islam harus patah oleh cerita ini, namun bagi saya inilah ujiannya untuk tetap konsisten meyakini sebuah ide yang pernah terrealisasi di zaman yang tidak pernah saya rasakan, beberapa abad silam. Sebab waktu punya caranya sendiri untuk mengingatkan.

Senin, 22 Agustus 2011

POLITISI

 
Beberapa saat yang lalu, saya memberanikan diri minta kepada salah satu Anggota dewan untuk membantu kegiatan buka bersama yang diadakan oleh warga setempat. Jawabannya cukup mengejutkan;
Tidak bisa membantu, dengan alasan tidak ada uang”.
Respon saya pertama kali dalam hati saya adalah rasa kasihan dan keinginan kuat untuk memahami. Jawaban ini tentu bukan jawaban sederhana, sebab hingga saat ini masyarakat terutama konstituen masih belum rela jika jagoannya tampak tidak seperti dewa yang serba bisa membantu, apalagi mereka sendiri memang terjun langsung berpeluh ria di bawah terik matahari untuk berkoar-koar berkampanye, dan rela bermalam-malam menghadapi tusukan angin malam hanya untuk menempel poster jagoannya itu supaya terpilih menjadi aleg. Namun dalam kacamata saya itu wajar, apalagi mencari  harta halal dalam dunia politik bukanlah perkara yang mudah, namun saya pun tidak rela jika politisi baik ini menjadi bulan-bulanan konstituennya hanya karena harus milah-milah harta mana yang halal dan mana yang haram yang kemudian berujung pada minimnya penerimaan konstituen saat mereka membutuhkan bantuan.
Saya sepakat jika aleg tersebut tidak berhenti pada alasan financial yang terbatas, sebagai orang yang bermimpi Indonesia yang lebih baik, perlu ada pikiran setelahnya, yaitu perlu ada terobosan untuk menjembatani antara keterbatasan dengan permintaan dana dari konstituen yang memang tidak mungkin dinafikan, apalagi diharamkan dengan pungsinya selaku pemegang amanah rakyat yang menjaga kehalalan setoran.
Sangat dimungkinkan jika kelincahan dalam melihat peluang sumber uang adalah factor yang paling menentukan dalam membangun kekuatan financial anggota dewan, ini persoalan skill dan kecerdasan, terlepas dari kapasitasnya dalam memahami persoalan hukum Islam yang mengatur harta halal dan haram.
Saya kenal sama anggota dewan yang namanya tidak perlu saya sebutkan. Meski dia saat ini tidak lagi menjadi anggota dewan, namun namanya masih dikenang di kalangan konstituen, karena ditangannya cukup banyak harapan konstituen yang direalisasi, seperti permodalan, bantuan social, pertanian dan lain sebagainya. Kejeliannya dalam melihat peluang sumber dana yang kemudian digabungkan dengan kecerdasannya dalam memahami perundang-undangan, membuatnya selamat dari lirikan  aparat. Karena yang dilakukannya semua sesuai dengan aturan. Namun sayangnya kemampuan itu tidak bisa disamaratakan, sebab itu indra pengedus uang setiap orang berbeda-beda, apalagi kalau digabungkan dengan kecerdasan dalam melihat celah perundang-undangan dan jam terbang.
Kembali ke persoalan tadi, yang jadi pertanyaan adalah apa upaya untuk meningkatkan kemampuan financial anggota dewan tanpa harus melupakan peranan utamanya selaku perwakilan rakyat..?
Langkah Pertama yang dapat dilakukan oleh anggota dewan adalah mengenal pelaku usaha baik itu investor, pemilik usaha atau pun para agen marketing. Semua ini harus dikenal karena ditangan mereka sumber-sumber keuangan itu ada. Keterbatasan kenalan dengan para pelaku usaha akan sangat mungkin berdampak pada keterbatasan pada financial untuk membiayai kegiatan-kegiatan operasional yang terkait erat dengan konstituen.
Selain itu Perlu dilanjutkan pada langkah kedua yaitu kenal dengan manusia-manusia yang membutuhkan produk dari pelaku usaha yang sudah dikenalnya itu. Contoh, Jika Anda kenal sama pemilik perusahaan farmasi, maka selaku anggota dewan wajib mengenal kepala rumah sakit, baik swasta atau pun negeri. Begitu pun jika Aleg punya kenalan trainer, bisa juga dihubungkan dengan beberapa pimpinan bank cabang lokal untuk mentraining seluruh karyawannya. jika sukses Aleg tersebut akan memperoleh fee penjualan. Menurut pandangan saya itu dana halal. Jadi hanya kenal saja tidak cukup, Aleg harus menghubungkan dan deal.
Saya pernah kenal dan dekat dengan salah satu anggota dewan, saat itu saya selaku ketua organisasi pasti membutuhkan biaya operasional organisasi baik yang langsung saya pimpin atau pun yang ada di leading sector. Berat rasanya kalau mengandalkan iuran anggota. Untuk keluar dari persoalan itu saya biasa silaturahim dan tukar gagasan dengan anggota dewan dan Alhamdulillah bantuan itu cukup lancar mengalir. Menurut pengakuannya, beliau cukup banyak terbantu dengan usaha mengenalkan antara pelaku usaha dengan pihak yang berkepentingan dengan produk dari pelaku usaha tersebut, baik kepala dinas mau pun komunitas. Jika tidak begitu, mungkin nasibnya sama dengan beberapa kawannya, terpental setelah tergagap-gagap dimintai bantuan oleh konstituennya.
Langkah Ketiga dunia politik ini dalam pikiran saya adalah dunia maneuver, ya maneuver untuk mengatasi kebuntuan dan kesulitan. Salah satu maneuver yang paling kuat saat ini adalah kemampuan untuk menguasai dan mengkondisikan rapat. Beberapa politisi saya akui cukup handal dalam membangun team untuk bermanuver. Kemampuan ini bukan hanya bisa membungkam para politisi busuk, namun yang terpenting adalah menumbuhkan perasaan terbantu pada diri politisi lainnya melibatkan Aleg tersebut pada setiap kebijakan yang akan diambil, serta menumbuhkan perasaan yang dihantui ketakutan pada diri politisi lainnya jika tidak melibatkan Aleg tersebut dalam setiap kebijakan yang diambil, ketakutan itu timbul dari keganasan retorika yang dimiliki aleg tersebut dalam mempermainkan logika politisi lainnya.
Saat kemampuan maneuver itu ada pada diri Aleg, sangat dimungkinkan jika rapat-rapat non formal yang membahas ranperda pun akan melibatkan si Aleg tersebut. Jika sudah demikian, Aleg tersebut bisa mendapat akses APBD lebih besar. Secara hukum yuridis selama tidak tersandung pidana korupsi, itu semua halal, sementara secara de facto justru hukumnya wajib. Namun sayang, logika jumlah besar akan mengalahkan jumlah kecil cukup mengganggu pikiran saya, dan itu yang sering dijadikan oleh manusia bermental ayam sayur sebagai alasan untuk tidak berambisi menang.
Langkah Keempat adalah mengenali kembali kekuatan dan kekuasaannya selaku anggota dewan. Sekitar satu pecan yang lalu salah satu pimpinan DPR berbicara akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk mendorong Indonesia mengakui kemerdekaan Kosovo. Rasanya bahagia dan bangga punya pimpinan macho semodel itu. Begitu pun dengan aleg lokal, perlu rasanya menghitung-hitung kembali kekuatan dan kekuasaanya.
Politik adalah dunia symbol dan sinyal. Disini bisa dimengerti kenapa kepala dinas enggan sekali berurusan dengan anggota dewan, sebab selain akan berhadapan dengan srigala lapar juga kekhawatiran akan nasibnya yang diombang-ambingkan lobi aleg kepada walikota atau bupati.  
Di sini berarti segala senyuman, lirikan, bahkan gertakan pun perlu dikapitalisasikan menjadi kekuatan Aleg.  Caranya dengan mengetahui sumber kesenangan dan sumber ketakutan subjek, serta memasukkan sugesti bahwa aleg tersebut selain menjadi partner yang bisa memberi manfaat, jika bisa menjadi sumber malapetaka jika berurusan dengan aleg tersebut. Ya sesekali pake jargon “ayo bung ribut kembali, tapi itu sesekali saja, kalau urusan kemaslahatan diusik. Jika kondisi sedang adhem dan kondusif, barulah pake jargon ayo rebut kembali.  
Langkah Kelima membangun team politik yang progresif menjadi penutup dari ketiga langkah di atas. Team ini bukan hanya mengumpulkan segala kekuatan yang ada pada aleg, juga menjadi bagian yang mengatasi kelemahan aleg tersebut.  Mereka yang terlibat dalam team tidak harus dari kalangan aleg sendiri, namun dari manusia yang potensinya berada pada celah lemah yang dimiliki aleg tersebut, atau potensinya terletak pada kerja-kerja yang akan didelegasikan kepadanya, team ini mungkin dinamakan staf ahli.
Staf ahli ini yang menganalisa, mempersiapkan bahan omongan di forum untuk aleg tersebut, sekaligus memperkuat dengan data-data akurat. Catatan yang akan dilontarkan aleg di forum biasanya ada dimeja aleg beberapa jam sebelum rapat dimulai, jadi aleg menerima matangnya saja.  Mereka tentu digaji secara layak dengan ukuran keahlian, bukan UMR, karena ilmu dan kecekatan mereka saat bekerja belum bisa disamakan dengan pegawai pabrik. Tapi sepertinya Gaji ini yang sering membuat aleg agak enggan menunjuk staf ahli. Asumsi bahwa mereka sudah punya banyak pengeluaran cukup menjadi kata pamungkas untuk tetap bekerja secara tradisional. Mungkin logikanya lebih baik alon-alon tapi murah, dari pada banter tapi mahal.
Jujur saya memuji kesabaran aleg yang tidak punya staf ahli, sebab mereka harus ketemu konstituen sendirian, memilah-milah proposal sendirian, sekaligus mengantarkannya ke kepala dinas juga sendirian, membaca draft perundang-undangan daerah sekaligus mempersiapkan bahan gagasannya di forum juga sendirian, Ini manusia superman yang hampir mustahil saya temui mengingat jatah waktu semua manusia hanya 24 jam dan keterbatasan kekuatan fisik dan psikis yang semakin meranggas di makan usia.  
Sebelum menutup tulisan ini, saya teringat ada cerita seekor singa ganas yang menggunakan cakar dan segala keahliannya untuk menangkap tikus-tikus.  Sebanyak apa pun singa makan tikus, karena yang dimakan itu tikus, maka singa itu akan kembali lapar jika waktu mulai beranjak sore. Singa itu barangkali tidak akan mengalami kelaparan lagi jika keahliannya itu digunakan untuk menerkam kijang. Cerita super pendek ini mungkin banyak tafsirnya, dan tafsir itu saya kembalikan kepada pembaca.

Kamis, 27 Januari 2011

Jejak Kaki dan Tulisan


Coba hitung, sudah berapa lama kita hidup di dunia ini dan sudah berapa kejadian yang bisa kita rekam dalam ingatan kita?. Bisa jadi memori kita hanya bisa mengingat kejadian yang luar biasa selama hidup kita, karena memang begitulah cara kerja otak manusia. namun sayang kejadian luar biasa itu hadir di hadapan kita seringkali terjadi bukan karena kejadian itu memang luar biasa, namun karena persepsi kita yang menilai keluarbiasaan itu dan penilaian itu yang membuat kejadian apa pun di hadapan kita menjadi relative, atau nisbi.

Sebagai contoh, bagi beberapa rekan saya, keputusan saya untuk keluar dari tempat kerja dulu adalah kejadian biasa saja, namun bagi saya itu keputusan besar yang melibatkan sepenuh pemikiran dan keberanian untuk menganggur sementara waktu, sementara itu bagi istri saya, keputusan itu tentu menguras air matanya meski hanya untuk semalam. Hal yang sama di saat saya memberanikan diri hijrah ke Blitar dan meniti karir dari bawah, segala deposito social yang sejak lama saya tabung di kota malang harus saya simpan, karena di Blitar itu semua belum berarti.

Dan banyak hal lainnya yang bisa ditemukan dalam diri kita sendiri-sendiri. Dari sisi itulah saya selalu memaknai setiap manusia tidak sekedar sahabat dan orang lain, namun lebih dari itu, mereka membawa sejarahnya sendiri-sendiri yang mereka alami sejak mereka belajar menafsirkan segala kejadian yang mereka alami dari orang yang lebih tua dari dirinya.


Namun sayang sekali, sedikit orang yang dianugerahi kelebihan untuk mengingat segala kejadian dalam sejarahnya, terlebih dari itu sedikit sekali orang untuk belajar mengerti bahwa pengalaman yang sepele sering berpotensi membawa perubahan besar pada dirinya.


Atas dasar itulah, sejatinya manusia membutuhkan tulisan, ya tulisan untuk mengikatkan dirinya kepada keabadian, menghindarkan diri dari kesiasiaan akibat lupa. Tulisan sendiri sering saya jumpai sebagai fenomena yang sangat tua. Dalam banyak kebudayaan, manusia sering menorehkan sejarahnya dalam goresan baik itu yang diwakili huruf, symbol maupun gambar yang dapat merekam ide, pikiran dan pemaknaannya dalam waktu yang lama.


Adalah kelompok pengembara atau traveler yang punya kebiasaan menulis di luar kelompok para alim ulama yang mencatat tafsirannya setiap hari. Dalam dunia Islam saya kita dapat menjumpai Ahmad ibn Fadhlan yang dikirim Khalifah al-Muqtadir ke kerajaan bulgars yang masuk wilayah Rusia saat ini. Dalam perjalanannya Ahmad bin Fadhlan mencatat segala pengamatannya tentang kebiasaan, tabiat, gaya hidupnya yang jorok bahkan dia secara rinci mencatat bentuk tubuh orang rusia yang sempurna itu. Catatan Ibnu Fadhlan ini kemudian menginspirasi novelis Michael Crichton untuk menulis karyanya yang berjudul Eaters of the Dead yang difilmkan dengan judul The 13th Warrior


Disadari atau tidak, tulisan para kaum traveler itu telah banyak memberi wawasan kepada orang-orang semasanya tentang dunia yang ada di luar jangkauan kebanyakan orang. Apalagi sarana komunikasi saat itu masih dibatasi oleh dinding pegunungan, panasnya gurun dan luasnya samudera. Tulisan para kaum traveler ini pun telah memberi kita wawasan tentang kondisi manusia, bentuk bangunan, tradisi dan kebiasaan jauh hari sebelum kita dan orangtua kita ada.

Mungkin saja itu pun akan berlaku pada kita jika kita memutuskan untuk menulis apa pun pengamatan dan penafsiran kita atas fenomena yang ada di sekeliling kita. Tulisan kita bisa saja mewakili zaman kita, di saat manusia berabad setelah kita ingin mengerti apa perasaan, bentuk letupan pemikiran, serta arus perjalanan yang dialami manusia sebelumnya.


Atas dasar itu, pasca kematian kakek saya dari garis Bapak, saya sering mereka-reka bagaimana jejak hidup kakek saya yang konon cukup memberi warna keislaman di kampungnya di Ciamis. Andaikan pada saat itu kertas juga dimengerti oleh manusia pada zamannya untuk merekam segala aktivitas manusia, barangkali kakek akan menulis. Namun zaman itu sudah berlalu terlalu jauh, perjalanan kakek yang harus berakhir saat dia bersujud itu harus saya reka-reka di atas cerita-cerita yang berserakan dari mulut para tetangga, nenek dan sanak saudaranya, apakah itu cerita cinta, mau pun kisah pergulatannya untuk bertahan dari keganasan PKI yang telah merenggut nyawa kawan-kawannya.


Begitu juga dengan cerita Bapak yang kurang bisa merangkai cerita atas segala pengalaman hidupnya, saya tidak bisa mengerti masa lalu Bapak kecuali dari suasana tertentu yang biasanya menarik Bapak untuk menceritakan pengalamannya. Selain itu saya mengerti masa lalu Bapak dari cerita kawan-kawannya dan dari beberapa carik kertas penghargaan yang pernah di terima Bapak. Pengalaman Mamah mungkin lebih tidak bisa terjangkau.


Andaikan orangtua dan kakek itu adalah saya dan Anda. Sementara itu Anak cucu kita terkadang dengan nalarnya ingin mengerti pengalaman demi pengalam kita, apakah kita bisa menjelaskan semuanya hanya melalui cerita yang bisa kita lalui hanya beberapa saat saja. Apalagi jika kita sudah tiada? Pastinya Anda punya jawabannya. Namun jawaban itu, bagi saya adalah alasan untuk mengerti kenapa menulis itu adalah sebuah kewajiban.

Senin, 03 Januari 2011

Musholla.. musholla.



Beberapa waktu yang lalu saya kawan saya diberi amanah oleh pemilik tanah salah satu penduduk untuk mengurus proses wakaf tanah di samping rumahnya untuk dijadikan wakaf untuk musholla. Sebagai seorang muslim yang baik, tentu amanah itu perlu ditunaikan, apalagi tanah tersebut diperuntukkan mushola yang dapat dipake oleh warga sekitar.

Pada awalnya, saat proses penyelesaian administrasinya berlangsung, tampak belum ada masalah, namun masalah itu datang di saat pembangunan pondasi, beberapa warga tampak protes dan bahkan sampai demo dan mendatangkan beberapa pejabat setempat. Kawan saya dan kontraktornya yang kebetulan dua-duanya kawan saya sampai dipanggil polsek untuk ditanyai macam-macam, di polsek tampak tidak menegangkan, karena memang tukang instrogasinya juga kawan yang dua orang tadi dan suka dxxxxit.

Akhirnya, sebagai tanda bahwa mushola tersebut diretui warga, maka saya dimintai FC KTP. Ya Anda tahulah kalau di desa, untuk urusan seperti ini bisa satu kelurahan tahu. Namun ketegaran jiwa seseorang dapat dilihat disini, apalagi kawan saya ini merasa benar. Ya bener juga, dia tetap aja terus memproses pembangunan musholla itu tanpa sedikit pun menghiraukan protes warga.

Setelah diusut, ternyata yang tidak sepakat itu hanya satu orang, yaitu bapak agamawan yang notabenenya juga pengurus parpol nasional yang berkekuatan local, sebab di daerah lain memang parpol yang dia ada di dalamnya memang layu karena kebanyakan konflik. Sementara itu memang karakteristik warga agraris di pedesaan memang selalu sungkan untuk berbeda dari yang lain, meski pada dasarnya dia sendiri sepakat dengan pendirian mushola itu, lha iyalah lha wong, tanah yang diwakafkan itu tanahnya sendiri, kok malah orang lain yang ribut. Yang lebih lucu lagi, beberapa ratus meter dari pondasi mushola yang sedang didemo itu ternyata berdiri gereja sederhana yang melengang tanpa banyak tentangan dan demo, walau bukanya hanya tiap minggu saja, namun gerakkannya pasti, beberapa warga harus menggadaikan syahadatnya dan diganti dengan lain hati.

Sayang sekali, hal ini tampaknya sudah didengar oleh bapak agamawan ini, namun dengan pertimbangan toleransi, bapak kyai ini memilih untuk bersikap seperti terlihat tidak tahu dan lupa kalau ada gereja sederhana itu berdiri di teritorialnya.

Dari kejadian ini, saja mencoba untuk memahami suasana kebatinan dan alam pikirannya yang penuh dengan ayat itu dan saya tidak menemukan adanya logika yang ajeg di dalam isi kepala bapak agamawan ini. Wah terus terang saya menjadi susah memahami logika keberislaman dia. Padahal untuk urusan logika itu sudah dipelajari di ilmu mantiq, bahkan di filsafat yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Namun lagi-lagi pikiran saya terlalu sederhana untuk mencerna cara pikiran bapak agamawan ini.

Setahu saya, hubungan pribadi antara kawan saya yang menguruskan wakaf dengan bapak agamawan yang jadi penggerak demo ini tidaklah ada masalah, namun memang terkadang orang tidak suka kalau ada saingan wibawa dan pengaruh dalam satu territorial, hal ini yang dialami oleh kawan saya ini. Dan musholla ya harap anda tahu saja, seringkali menjadi trigger untuk mendapat simpati dari masyarakat. Nah dari sini relasinya jelas, kenapa bapak agamawan yang banyak hapal kitab ini tampak ramah bila dikunjungi namun suka menggerakkan orang untuk berdemo saat melihat musholla yang sedang berdiri di teritorialnya, tanpa sepengetahuan dan restu bapak agamawan ini. Lha iya lah, lha wong tanah, tanahe si muwakif dhewe.

Kasus ini saya temui beberapa kali dan polanya sama, kawan saya yang mengajukan proposal ke timur tengah untuk mendirikan mesjid dan itu di ACC, ternyata mendapat tentangan dari warga sekitar, usut punya usut, ternyata warga ini digerakkan oleh bapak agamawan kita dengan thema islam garis keras, sangar ya….? Hehe dasar kawan saya memang manusia bertipikal nekad, mesjid itu tetap berdiri hingga kini. Suara miring pun lambat laun semakin sayu dan lamat-lamat. Bapak agamawan pun tidak lagi bisa menggerakkan warganya lagi, karena warga yang dia gerakkan kemarin sudah dapat daging kurban dan lebih dari itu malah warga sekitar turut meramaikan mesjid tersebut. Sayang ya.. kalau untuk mengurus umat saja kok harus melewati konflik dulu, padahal persoalan umat itu cukup pelik dan berat.

Sekarang, bapak agamawan itu tampak menjadi manusia pendiam, diam karena lidahnya mulai tidak bertaji dan tausiyahnya mulai terasa memusingkan kepala, warga bingung sama bapak agamawannya yang suka ngajarin zikir dan memberi nasihat yang baik kok sudah menghasut orang. Warganya sudah mulai merotol tepat pasca diguyur daging kurban itu, apalagi kemarin baru saja dikasih traktor tangan, Partai yang ditangani bapak agamawan pun semakin terlihat tidak berotot dan kelelahan, ya lelah karena harus terus memikirkan bagaimana bermanuver yang baik dihadapan umat dan warganya sendiri. Perlahan namun pasti, kini dia bukan siapa-siapa lagi, partainya pun semakin mengecil, pemimpinnya pun sudah mulai enggan melirikkan matanya untuk mengawal proposal pembangunan pesantrennya, muridnya pun bisa dihitung puluhan saja.

Semoga kejadian ini tidak terjadi pada bapak agamawan yang sekarang ini tengah terlihat gagah saat menggerakkan orang dari belakang layar. Namun riak-riak kekecewaan itu mulai ada, sekolah yang tengah dia tangani sudah mulai banyak dikomplain karena masalah keuangan. Apakah bapak agamawan ini nanti akan menjadi manusia pendiam seperti kawannya tadi? Wallahu a’lam.

Sabtu, 31 Juli 2010

MENAKAR MOTIVASI ANGGOTA DEWAN KITA


Saya ucapkan selamat kepada anggota dewan kita yang luar biasa ini, terutama kepada mereka yang merebut rekor tidak pernah hadir sidang, dan kepada anggota dewan yang namanya sempat di publish di media massa meski pencapaiannya bukan yang tertinggi dalam bolos sidang.

Prestasi apa pun bentuknya selalu membangun batu loncatan popularitas sesuai dengan prestasinya yang telah dia buat, baik disadari atau pun tidak disadarinya. Yang cukup menarik adalah ongkos untuk membangun popularitas anggota dewan yang suka bolositu sangat murah sekali bahkan gratis, tanpa keluar uang sepeser pun, tapi alangkah baiknya bila anggota dewan yang ketahuan suka bolos itu untuk tetap bertahan jadi anggota dewan, jangan mengundurkan diri apalagi bunuh diri seperti kebiasaan pejabat di jepang, sebab masyarakat ini terkenal mudah memaafkan kelalaian petingginya, namun berangasan bila sesamanya maling ayam. Kearifan agama bilang, kalau memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang pertanda dari kebesaran jiwa seseorang dan itu diajurkan sekali oleh agama manapun. Saya sepakat sekali dengan cara berfikir model masyarakat yang kayak gini. Anggota dewan yang namanya ada media karena bolos pun besyukur.

Memang sih ada beberapa orang yang tampil berbeda dan bangkit untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, namun mereka kembali binasa oleh teduhnya pepatah kesopanan. Apalagi model pendidikan peodalistik memang kuat mengakar di alam bawah sadar acapkali menekankan kalau orang yang suka protes, beda sendiri adalah anak nakal yang berprospek menjadi begundal, harus ditumpas sedini mungkin.

Kembali kepada prestasi anggota dewan ini, saya yakin sekali banyak masyarakat yang marah. Benci dan merasa dikhianati, namun sebentar lagi mereka akan lupa dan memaafkan. Ibaratnya mereka hanya bisa menarik nafas sambil Manahan amarah, kemudian bangkit sambil menatap penuh kekecewaan, ya… itu aja kok, sebab beberapa menit kemudian mereka akan duduk tenang kembali, tentunya setelah ingat kata-kata arif yang mereka temukan di sepotong kata-kata orang suci “jangan marah”, “kalau ngomong yang baik”, “jangan suka protes”. Setelah itupun dewan yang suka bolos itu kembali berperilaku seperti pahlawan. Bahkan kabar terakhir mereka mengadakan parade bobo.

Pembelajaran

Kompleksitas pemikiran dan tindakan manusia banyak dipengaruhi oleh pendengaran, dan penglihatannya. Apalagi yang dia lihat adalah orang yang punya pengaruh, atau bahasa Psikologinya Signifikan Other atau orang yang signifikan dalam mempengaruhi seseorang. Signifikan other bisa berupa kawan, orang tua, atau pun tukang bakso yang petuahnya dahsyat. Dalam hal ini saya melihat anggota dewan kita ini akan menjadi signifikan other bagi para kroco yang ada di bawahnya. Mereka yang belum menjadi anggota dewan saat ini dan kemudian diberi kesempatan menjadi anggota dewan kemungkinan akan melakukan hal yang sama. Baik itu bolos rapat, atau pun tidur berjamaah di ruang sidang, sebab mereka mendapat pembenaran dari perilaku seniornya yang suka bolos dan bobo itu.

Saya terus terang saja saat ini otak saya sedang buntu melihat realitas seperti ini, tidak habis pikir kok anggota dewan kita ini sukanya bobo dan bolos, kalau gak bolos ya bobo (meski gak semuanya juga kayak gini). Bingung cara memutus rantai ini, Kalau pun besok ada demo, ya demo Cuma sekali, sebab selanjutnya sudah pasti di maafkan dan di lupakan pula. Kalau sudah begini apa yang akan anda lakukan saudara?

Motivasi

Motivasi sering disandingkan dengan semangat. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan atau energy yang menentukan antusiasme dan konsistensi seseorang dalam melakukan sebuah pekerjaan. Semakin antusias dan konsisten seseorang dalam berprestasi, semakin menunjukkan kalau motivasinya berasal dari kesadarannya.

Tingkat motivasi seseorang serinng dijadikan sebagai acuan dan menakar prestasi seseorang. Dengan kata lain seseorang yang konsisten bolos dapat dimaknai pula kadar motivasinya kurang terbangun secara maksimal. Atau bahasa blitarnya Aras arasan.

Meminjam teorinya Maslow tentang teori hierarki kebutuhan manusia, dia menjelaskan bahwa hirarki kebutuhan manusia ini terdiri dari 5 tingkatan yaitu :

1. Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex.

2. Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual

3. Kebutuhan akan kasih sayang (love needs)

4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan

5. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Lebih jauh lagi, Maslow ini menjelaskan bahwa mereka yang kebutuhan fisiologisnya belum tuntas, pastinya tidak akan mampu menghadirkan rasa aman dalam dirinya. Begitu juga kebutuhan akan rasa kasih sayang tidak aka nada dalam diri seseorang bila kebutuhan kasih sayang tidak dia dapatkan secara maksimal. Tingkat motivasi paling tinggi dalam pandangan Maslow adalah mereka yang bekerja atas aktualisasi diri mereka. Untuk mencapai tingkatan ini, manusia harus menyelesaikan 4 kebutuhan di bawahnya.

Menurut anda ni, kira-kira tidur dan bolos ada ditingkat yang mana?

Apa anda punya pendapat lain?