Rabu, Oktober 03, 2012

KEMISKINAN

Kalau kau lahir dalam keadaan miskin, itu bukan salah kamu, tapi kalau kamu mati dalam keadaan miskin, itu salah kamu. Donald Trump

Membuat kalimat nyelekit ini memang hobinya Trump, dan memang spesialisnya di sana. Rasanya kalau sopan bukanlah seorang Trump. Meski bukan contoh yang baik untuk menjadi pebisnis, namun kata-katanya memang benar adanya.

Baik dulu maupun sekarang kemiskinan itu bukanlah hal yang membahagiakan. Dalam sisi apapun. Namun masih saja ada yang pembelaan bahwa miskin itu takdir dan perintah Tuhan yang dibalut kata Juhud.
Sejatinya Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Tentu Anda bisa membayangkan, betapa anak kita kurang gizi, pakaian istri yang kumal, serta setiap malam harus menggigil menahan angin malam yang menyelinap masuk lewat celah bilik yang belum ditutup sempurna itu.

Di mana pun tempatnya, kemiskinan identik dengan kekalahan dan ketertindasan, oleh sebab itu, kenapa para nabi selalu dikelilingi oleh orang fakir, karena nabi memang menjadikan mereka tidak tertindas, dan kemudian mengangkat mereka menjadi lebih sejahtera.

Itu yang sudah dilakukan oleh Rosul. Meski secara financial setelah diangkat menjadi Nabi, Muhammad bukanlah orang kaya, namun beliau bukan orang miskin, bahkan beliau memiliki akses yang kuat terhadap gudang-gudang kekayaan, akses yang kuat kepada militer. Hal ini membuat kesederhanaan Rosul begitu mempesona. Pernah dalam salah satu Riwayat, Rosululloh memberi kambing kepada suatu kaum yang masih musyrik, jumlah kambing itu begitu banyak sehingga memenuhi lembah perbukitan. Pimpinan suku begitu terkejut melihat cara Rosul yang berinfak seakan tidak takut miskin, walhasil dia dan seluruh penduduk suku tersebut masuk islam. Jadi menurut saya, kesederhanaan yang seperti ini yang patut ditiru, bukan justifikasi akan ketidakmampuan dan kekalahan.

Jujur, saat saya mendengar kata miskin, saya sangat benci miskin, saya tidak suka miskin. Sebab dengan kemiskinan itu keluarga berantakan, silaturahmi menjadi kaku, dan permusuhan pun tinggal menunggu waktu. Kegagalan memberi nafkah lahir kepada keluarga, sebab pendapatan dibawah 1 dolar perhari, mau beli bensin perlu banyak pertimbangan, begitu juga pulsa, semuanya penuh kesultan dan ketidak berdayaan. dan itu semua pernah saya alami.

Dulu, Kakek saya termasuk orang yang berada di kampung saya, beliau juragan becak dan penjahit. Dari becak itu, beliau punya karyawan. Perjalanan waktu yang begitu lamban menurut zaman saat itu, dan kemiskinan pun merambah secara perlahan. Becak pun satu persatu dijual, tanah pun sudah tiada, sementara itu mesin jahit pun harus disimpan, karena kekuatan kakek tidaklah sekokoh dulu.

Beberapa tahun yang lalu, kakek meninggal dunia dengan kondisi apa adanya, saya tidak bisa hadir karena saat itu menganggur dan sangat sungkan meminta uang kepada istri. Kepergian kakek yang begitu saya banggakan, yang pernah memberi saya celana dan kemeja, yang sering berkunjung bakda maghrib saat beliau masih kokoh, harus saya antar dengan tangisan dari jarak 600 KM dari makamnya. Tangisan itu selalu mengiringi disetiap kesendirian saya sampai beberapa hari lamanya bahkan sampai saat ini jika saya mengingatnya, tapi inilah hidup, saya harus menguat-nguatkan diri untuk menghadapi peristiwa itu.
Kini nenek pun mengalami hal yang sama, dengan kondisi yang amat menggantungkan dirinya kepada anak-anaknya, tentu bukanlah pilihan yang baik. Beruntung anak-anaknya menikah dengan lelaki yang secara financial cukup, namun ketergantungan nenek kepada anak-anaknya membuatnya tidak bisa bebas berbuat menggunakan uangnya.

Lebaran tahun 2011 kemarin adalah lebaran yang amat mengharukan, di mana saya membawa dua anak yang masih kecil, masih menganggur, hampir seluruh biaya dari istri. Sementara itu melihat nenek yang begitu renta, hormon prolaktin saya tiba-tiba melonjak, Air mata merembes begitu deras, namun tangisan ini bukanlah tangisan karena rindu, namun tangisan yang masuk akal untuk seorang lelaki, yaitu tangisan ketidakberdayaan. ketidakberdayaan saya untuk membahagiakan nenek yang begitu perhatian kepada saya di saat nenek masih jaya, yang selalu tergopoh-gopoh saat saya sakit sesak. saat itu saya benci sekali sama diri saya. Peristiwa itu menyakitkan hati saya, karena itu saya benci miskin sebenci saya kepada peristiwa menyakitkan itu.

Saat kakek dari bapak saya meninggal, pembagian warisan sudah jelas, tanah pun sudah tertata. Menarik rasanya hidup ini jika saya bisa menyewa tanah kepada bapak sendiri, tentu dengan harga yang standar, saya anggap sebagai bakti saya kepada bapak. Namun kabar bahwa tanah itu dijual oleh salah satu saudaranya tanpa konfirmasi itu membuat saya urung lakukan itu. Hal sebelumnya investasi bapak dari pabrik kain diambil begitu saja tanpa penjelasan dan tanpa komunikasi. Beruntung bapak memilih untuk tidak menggunggat di pengadilan dan lebih beruntung lagi ekonomi bapak masih kokoh. Sementara saudara yang mengambil itu hingga kini masih terganjal hutang yang menggunung. Bagi saya Ekspresi orang yang punya banyak hutang adalah ekspresi yang mudah diterka, dan ekspresi itu selalu saya temukan saat saya bertemu dengannya. 

Sampai saat ini, hubungan keluarga saya dengan saudara bapak itu masih terasa kaku, walau lebaran tetap saja bersua. Saya tidak nyaman dengan kondisi ini, namun suasana hati saya tetap tidak bisa diatur senyaman mungkin dengannya. Benar juga yang dikatakan Carole Wade dan Carol Tavris; rasa sakit itu bukan hanya pekerjaan inderawi, sebab setelah stimulus rasa sakit itu telah hilang, namun sensasinya tetap saja bertahan dan kronik. Kalau bukan Rosul yang meminta umatnya untuk memaafkan, tentu rasa sakit itu akan saya pelihara.

Beberapa tahun yang lalu, saya selalu rutin berkunjung kepada saudara bapak yang letaknya jauh dari tasikmalaya. Secara ekonomi beliau yang paling mapan. Pendapatan perbulan bisa sampai 11 juta bahkan lebih. Belum dari isterinya. Bagi saya hingga kini, jumlah 11 juta masih saja terasa besar.

Ketika saya berbincang tentang mobil, istrinya dengan begitu yakin bicara “Rom, sekarang saja saya bisa beli mobil”. Bahagia sekali rasanya hati saya saat saudara memiliki mobil. Beberapa saat kemudian, ternyata bapak punya mobil. Tidak terlalu bagus, hanya Suzuki escudo. Ekspresi merasa tersaingi terasa sekali apalagi diperkuat dengan statement yang mengarah ke sana dengan memberikan fakta yang menunjukkan uangnya banyak, walau saya tahu bahwa ada bagian dari masa lalunya yang penuh tangisan, atas tragedy financial yang dihadapi suaminya itu, dulu, saat belum sejaya saat ini.

Dengan kondisi keuangan saya yang morat marit saat itu, saya hanya bisa diam, walau saya mengerti bahwa Oxytocin saya reaktif sekali saat itu, saya dipaksa untuk menerima kenyataan. Walau menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang sudah tidak bisa lagi untuk berkembang. Tapi itulah yang terjadi, dan saya merasa hampa. 
Berangkat dan hal itu kemudian, saya ingin sekali bekerja, ingin sekali memiliki uang dan ingin sekali memberi.

Mengaca kepada pengalaman saya dan apa yang saya saksikan, sejatinya persoalan kaya miskin bukanlah persoalan takdir. Sebab kita tidak tahu apakah kita ditakdirkan kaya atau miskin, semuanya berada pada posisi “mungkin”. Yang bisa kita fahami dari takdir adalah yang telah terjadi. Dengan kata lain kita tahu nasib kita saat ini sedang miskin, entah besok lusa, kita tidak tahu.

Jika anda menilai anda bernasib miskin, saya seharusnya kagum, dan mengucapkan selamat, sebab anda berarti memiliki akses ke lauh mahfudz yang dijaga ekstra ketat itu. Namun ucapan selamat itu tidak akan pernah saya lakukan, sebab pengakuan akses terhadap lauh mahfudz hanya bisa dilakukan oleh penipu amatir yang CC otaknya kecil.

Jadi pengakuan bahwa miskin itu adalah nasib, sebenarnya bentuk penipuan naïf yang datang dari jiwa-jiwa kerdil yang merasa kalah dalam menghadapi imajinasi tsunami kehidupan, padahal jika ditelisik lebih dalam, itu hanya pukulan ombak yang disapu angin sepoy.

Kalau begitu, di mana persoalannya kemiskinan sebenarnya…? Sebenarnya persoalan kemiskinan diawali dari dinamika psikologis yang berefek jauh terhadap perilaku yang mendorong kepada kemiskinan, terutama pada sikap bahwa kaya itu hal yang jauh di sana dan tidak terjangkau. Sikap ini yang membawa perilaku untuk bersikap biasa, tidak ada ambisi dan tidak ada impian yang menggairahkan.

Nun jauh di sana, saat Nabi dan Para kaum muslimin berhijrah, Abdurrahman bin Auf. Sosok yang putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya. dipersaudarakan dengan sahabat Anshor yang bernama Sa’ad bin Rabi.

Konon Saad ini orangnya kaya raya, memiliki kebun dan dua isteri. Atas kepemilikan itu, saat menawarkan kebun dan salah seorang isterinya. Namun tawaran ini ditolaknya dengan penolakan yang elegan “tunjukkan di mana pasar..?”

Nah jika ingin membangun Agama ini dengan kekayaan, awali dulu dari sikap bahwa kaya itu dekat dengan saya dan saya akan menjadikan kekayaan itu tidak lagi dekat, tapi ada di genggaman tangan. Jika sudah demikian, Anda bisa menggaji para guru dengan gaji yang layak, membuka lapangan kerja untuk si miskin, membiayai caleg yang idealis dan menjewer bupati yang pikun akan amanahnya. Kekuatan ini yang bisa masuk ke semua lini, karena semuanya butuh logistic.

Nah sampai akhir tahun ini saya berazam untuk menaikan pendapatan saya 2 kali lipat. Ya dengan dimulai dari pikiran bahwa pendapatan sebesar itu adalah dekat dengan saya, tugas saya Cuma sederhana, yaitu menjadikan kekayaan yang saya persepsikan dengan itu berada di genggaman saya dengan cara bekerja keras dan mencari muka dihadapan Allah.

Langkah selanjutnya jika Anda sudah memiliki persepsi yang baik tentang kedekatan diri Anda dengan kekayaan, maka selanjutnya adalah membangun kedisiplinan yang kuat, baik dari rutinitas keseharian, kedisiplinan mengelola keuangan, bahkan kedisiplinan dan membangun wawasan keuangan.

Katanya sih menurut Chappy hakim, para pebisnis dan para memegang perusahaan besar  di singapur adalah Ex tentara, ya mereka tentara yang memilih untuk pension dini dan kemudian disekolahkan di  Amerika atau Negara Eropa lainnya untuk mendapatkan bekal ilmu manajemen dan atau finansial. Seusai wisuda, mereka langsung mendapatkan posisi-posisi penting dalam jajaran industri strategis nya. Itu sebabnya pebisnis singapur memiliki ketangguhan dalam berdagang.

Jadi jika Di Indonesia, standar kemapanan itu jika perutnya sudah gendut, maka di singapur justru akan jarang melihat mereka gendut, sebab mereka dituntut untuk sehat dan lincah.

Nah kalau persoalan miskin itu diawali dari dinamika psikologi naïf yang dibiarkan menguasai jiwa, maka persoalan kekayaan justru diawali dari keberanian untuk menjadi orang kaya. Keberanian itu bukan hanya datang dari kebencian terhadap ketidakberdayaan, namun hadir dari keyakinan bahwa Allah yang memiliki bentangan langit beserta benda-bendanya, pemilik bumi dan segala tambangnya, pemilik segala peluang rezeki dan pemilik sumber-sumber rezeki yang dibutuhkan, dan Allah sangat bisa untuk memberikan itu semua kepada kita, tanpa sedikit pun mengurangi kekayaanNya.
Tentu pandangan itu subjektivitas saya, dan Anda saya yakin punya pendapat sendiri.

SEPTEMBER
Setelah berbulan-bulan terlantung-lantung dalam ketidakberdayaan, saya tetap saja tidak ingin memperlihatkan kemiskinan saya, saya khawatir banyak yang terganggu. Saya setiap pagi keluar pakai motor supaya dikesankan mertua kalau saya bekerja. Dan saya pun selalu memakai baju rapi, seakan saya memang memiliki penghasilan.

Walau demikian, saya berupaya untuk bekerja, sebab kewajiban manusia kan bekerja. Saat itu saya pun membuka EO, saya kontak trainer yang saya kenal dan tentu yang bisa saya bayar murah. Yayasan penyelenggaranya pun saya pinjam, pokoknya semuanya saya pinjam, mulai dari stempel, kop surat, tempat alamat bahkan gaji trainernya pun saya pinjam dulu. Konsep saya buat dan surat-surat saya sebarkan sendiri. Sayang sekali hasilnya kurang menggembirakan. Hanya balik modal saja, tidak untung.

Setelah itu saya jualan kripik yang saya ambil dari tasik, modalnya saya pinjam ke Bapak sebesar 5 juta. Tentu meyakinkan orang adalah keahlian saya, nah salah satunya saya lakukan ke Bapak saya, dan bapak saya pun yakin kepada saya. Pengiriman kripik itu dilakukan melalui kereta api. Dan saya panggul sendiri kripik itu, saya masukkan ke dalam plastic yang kecil kecil yang kemudian distaplesi, atau dipanasi oleh api lilin. Besoknya saya kirim satu per satu ke warung, itu saya lakukan di malam hari.

Keuntungannya pun tidak begitu baik. Modal amblas, karena mental saya tidak siap untuk menjadi pedagang asongan. Saya malu sekali kepada Bapak karena usaha gagal dan uang pun tidak kembali, namun saya komit untuk mengembalikan. Dari sini saya belajar bahwa kemampuan untuk menahan diri untuk tidak popular adalah keharusan, dan disinilah letak fungsinya, supaya tidak telalu sakit disaat jatuh.
Bulan cerah pun hadir menyapa. saya diberi tahu Pak dammar, Pemilik Koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) Amanu bahwa ada penerbit buku yang membutuhkan tenaga marketing. Penerbit buku itu adalah PT Rumah Pensil Publisher.

Insight saya berkata bahwa inilah momentum yang baik. Saya pun kemudian membeli buku contoh dan memang bukunya bagus. Dengan kemampuan persuasive saya ditambah dengan mobilitas saya yang bisa diandalkan, saya pun menjadi member dan reseller setelah 1 hari ikut training marketing di malang dan disadarkan tentang pentingnya kekokohan ekonomi. self-efficacy saya pun hadir menyeruak dari dalam jiwa saya.

Saya pun mulai menjajakan buku, dari sekolah ke sekolah, dan person ke person, ya saya jadi sales yang berkekuatan penuh, Karena tahu rasanya menjadi kepala keluarga yang lemah secara financial, karena tahu rasanya tidak ada uang di dompet, karena saya tahu bahwa ketidakmampuan membelikan jajan untuk anak amatlah menyakitkan. maka saya pun menjual sekuat tenaga saya, tidak peduli Dicampakkan oleh guru agama, tidak peduli dicampakkan oleh kepala sekolah swasta. pun beberapa kali harus tertidur sebentar di pinggir jalan, karena begitu lelahnya berdagang, saya harus rela malam-malam bersama isteri naik motor kehujanan dan hampir tabrakan karena banyak mengambil buku dari Malang untuk saya jual lagi.

Dengan buku itu setiap detik saya gunakan untuk berjualan, setiap sms saya selipkan usaha saya. Adrenalin saya begitu mendidih, resiliency saya digedor. Saya bekerja seperti orang mengamuk yang tidak tahu lelah, meninju masa lalu saya yang sempat miskin itu. Dalam setiap doa saya selalu selipkan kata-kata “Ya Allah Maha pemelihara setiap makhluk, maha penyayang setiap hambanya dan maha penjamin rizkinya. Semuanya engkau beri makan, semuanya engkau beri Rizki, orang kafir engkau beri rizki dan rizki itu mereka gunakan untuk berbuat kedzaliman. Orang sombong engkau beri kesempatan dan kesempatan itu mereka gunakan untuk membenarkan kesombongan mereka. Engkau mengetahui bahwa sebaik-baiknya harta adalah harta yang ada di tangan orang beriman. Hari ini ya Allah engkau mengetahui setiap langkah perdagangan saya, setiap barang yang saya jual itu baik dan bermanfaat, kerahkanlah seluruh potensi rizki itu menghadap saya.

Permohonan saya dikabulkan, Mungkin Allah iba melihat doa hambanya yang sedang susah, mendengar rengekan hambanya yang sedang ingin sukses,  Penjualan pertama, pendapatan saya 3 juta. lompatan yang luar biasa, dari tidak memiliki pendapatan menjadi pemilik pendapatan, dari tidak punya menjadi punya. Saya kaget luar biasa akan keajaiban ini. Recovery financial keluarga mulai dilakukan. Seluruh hutang konsumtif saya bereskan. Anak saya pun saya sekolahkan, motor saya lunasi, dan yang paling penting wibawa saya kembali tegak dihadapan mertua.

Rasanya memang berbeda saat saya masih terjebak dalam kesulitan ekonomi, saya sangat temperamental, seluruh peristiwa selalu saja saya artikan sebagai cemoohan atas ketidakberdayaan saya. Hubungan saya dengan anak-anak begitu renggang, sampai anak saya tidak mau mendekati saya. Berat rasanya. Dan Alhamdulillah kini hubungan saya kembali baik, dengan anak-anak dan istri kembali dekat, tidak lagi temperamental seperti dulu. Saya merasa berdaya dan Alhamdulillah bisa mengeluarkan beberapa kawan saya dari jerat kemiskinan, tentu hal ini sangat saya syukuri.

Atas segala kebaikan inilah kemudian saya merasa bahwa saya harus berbuat lebih banyak lagi untuk membangun kebaikan untuk banyak manusia.

IMPIAN
Jika kau berfikir tentang diri kamu, Jangan pernah kamu berfikir realistis, sebab kenyataannya bangsa besar adalah bangsa yang tidak pernah realistis dalam menatap masa depannya. 
Itu sudah dilakukan oleh Diponegoro, pilihannya untuk melawan Belanda bukanlah pilihan realistic. Peperangan ditabuh dan dipuncak peperangan belanda harus mengerahkan 23.000 serdadu. Suatu hal yang tidak pernah terjadi di area yang sempit seperti di pulau jawa. Gabungan berbagai taktik militer yang sudah dikenal saat itu.

Saya pernah melewati jalur diponegoro, dalam kegiatan kemah tahunan yang acara puncaknya harus berjalan 12 jam mulai sore sampai siang. Melihat tracknya yang terjal mengingat paru-parunya yang perfungsi hanya satu, air mata pun meleleh tak tertahankan. Jika anda pernah melalui jalur itu, anda akan mengalami pengalami mistik seperti yang saya alami. Kecuali jika hati anda memang sudah bebal.

Dan kenyataan realistis itu pun terjadi, Diponegoro ditangkap di Magelang dan kemudian diasingkan di Makassar. Mungkin saja jika kita punya impian dan kejarlah impian itu sekuat mungkin dan janganlah melihat kebelakang. Mungkin impian itu tidak akan terwujud, namun kita tidak akan menyesal.

Tapi itu kemudian membangun arketif bagi generasi setelahnya, bahwa kemerdekaan bersikap harus ada dalam ruang terdalam jiwa manusia yang tidak mau tunduk kepada intimidasi dan tidak mau menjadi budak. walau itu tidak ada lagi jalan untuk lari. Pulau jawa kembali berdarah saat pertempuran di Surabaya dan di Jogjakarta. 
Pikiran saya yang terlalu serius, dan pengalaman yang pernah saya alami benar-benar mengekstraksi dalam wujud kebencian saya kepada kemiskinan dan kelemahan, yang kemudian hadir dalam sikap ingin mandiri dan memandirikan.

Beruntung beberapa tahun yang lalu saya mendapat tulisan tentang proposal hidup. Hal ini kemudian diperkuat saat saya mengikuti training tentang proposal hidup beberapa bulan yang lalu di Malang. Saya kembali disadarkan pentingnya membangun perencanaan yang tertulis untuk mengisi hidup saya yang hanya satu kali saja.

Dalam pelatihan itu, saya menangis, tidak peduli siapa dibelakang dan di samping saya, tidak peduli kawan saya menyaksikan atau tidak dan tidak peduli apa pun, selain kata-kata trainer itu yang benar-benar meninju batin saya saat itu. Teriakan-teriakan yang menyentuh kalbu itu memborbardir saya yang alpa oleh tujuan hidup saya. Betapa Allah terlalu baik, dengan memberi rizki yang dipermudah, diberi istri yang pengertian dan solihah, dikaruniai anak, dan disimpan dalam garis keturunan yang terhormat.

Bukan tidak mungkin saya akan kembali ke dalam kemiskinan kembali, sebab dunia bisnis adalah dunia yang penuh resiko, namun saya harus selau berbicara kepada sebesar apa pun masalahnya, bahwa saya punya Allah, dalam wirid harian disebutkan jelas “ Ya Allah, engkau yang tidak akan ada yang menolak apa pun pemberian engkau, dan tidak ada satu pun yang mampu memberi kepada siapa pun yang kau tolak”.  
Proposal hidup pun terbuat sudah, meski belum sempurna, namun itu sudah lompatan yang baik, dan satu persatu sudah terlihat nyata hasilnya. Kawan saya pun demikian, saya ajak untuk membuat proposal hidup, dan hasilnya sudah nyata, rumah yang sekian tahun tidak pakai kramik, kini sudah akan dikramik, hidupnya lebih cerah.

Memang tidak semua orang saya ajak bicara hati ke hati, sebab bicara financial sering harus hati-hati. Keliru bahasa urusannya panjang. Saya baru saja mengalami itu. Saat itu kawan saya sedang menganggur, pendapatannya kelihatannya tergantung pada gaji istrinya. Dengan niat ingin membantu, maka saya tawarkan bisnis haji umroh, yang diawali dengan hadist imam baihaqi yang intinya bahwa segala biaya haji umroh itu akan diganti oleh Allah. Sms say akemudian dijawab dengan pertanyaan yang mendetail; hadist itu diambil dari mana dan bagaimana derajat kesahihannya?. Kebetulan memang orangnya itu kalau ngomong nyelekit. Tapi ya sudahlah anggap saja sebagai motivasi untuk belajar hadist lebih giat lagi.

Kembali ke soal impian, memang ongkosnya besar, sebab anda akan mendapati justru orang yang paling kuat cemoohannya terhadap impian anda adalah orang dekat anda. Namun di sinilah ujiannya, anda akan melihat siapa yang menjadi kawan anda dan siapa yang bukan. Sekaligus menjadi Lup yang dapat melihat siapa saja setan yang berwujud kawan itu.

Sekeras apa pun cemoohannya, itu selalu datang dari luar. Dan Anda akan tahu, Anda punya mimpi akan dicemooh sebagai pemimpi, sementara saat Anda tidak punya mimpi pun anda akan dicemooh juga sebagai lelaki yang tidak punya masa depan. Dan itu semuanya orang lain yang melakukan. Tantangan terbesarnnya justru tidak disana, tantangannya adalah terletak pada ketahanan Anda dalam menahan segala upaya untuk kembali menjadi manusia biasa. 

Selasa, Agustus 23, 2011

PR TERTINGGAL ANGGOTA LEGISLATIF


Orangtua yang telah berumur lebih dari 60 tahun itu dengan suara parau mengumpulkan kadernya untuk mengerahkan kadernya untuk memenangkan salah satu calegnya, dengan nada yang meninggi namun nafasnya terengah-engah dimakan usia, dia meminta teamnya untuk mengingat kembali materi jihad yang telah dipelajarinya.
Ini adalah jihad politik, saudara….!!!
Suaranya tentu tetap tinggi dengan nafas yang terengah-engah, usia 72 tahun telah jujur menampakkan aslinya. Para peserta saat itu dengan cermat mendengar, sebagian ada yang bingung dari mana duitnya, sebab kebetulan calegnya itu memang orangnya penuh semangat namun kantongnya pas-pasan.
Ditempat lain, seorang kawan saya yang bekerja di dunia kesehatan, bersama teamnya yang kompeten dalam mengusir jin, dan yang satu lagi meluruskan tulang yang keliru arahnya, ada juga yang ahli dalam dunia obat-obatan modern bekerja keliling desa menyuntik para janda tua, lelaki katarak, gadis-gadis yang sakit mag atau bayi kurang gizi, ada juga ibu-ibu yang sakit demam, sambil menyuntik dan memberi obat gratisan, rombongan kawan saya itu tidak lupa mengingatkan pasiennya untuk mencoblos jagoannya. Tanpa ada paksaan sedikit pun.
Di waktu yang lain, tepatnya lagi di malam hari, seorang lelaki paruh baya ditemani kawan-kawan seperjuangannya harus berjibaku dengan dinginnya malam, hanya untuk menempelkan stiker yang bergambar kawannya yang sedang menjadi caleg itu, ya hanya dengan peralatan sederhana, dengan lem yang dia beli dari warung sebelah, kemudian satu persatu kertas yang bergambar kawannya itu ditempel di setiap sudut jalan, yang kira-kira dapat dilihat oleh banyak orang. waktu istirahatnya dia simpan, untuk satu harapan yang lebih baik. Sementara itu si calon tidak muncul, kuat dugaan kalau tidak sedang rapat, ya mungkin sedang beristirahat mengumpulkan kekuatannya untuk kampanye lagi esok hari.
Cerita itu terjadi di Tahun 2009, sebagai tahun yang menjadi penentu babak sejarah Indonesia, di tahun itu ada pemilu legislative kemudian di susul pemilihan presiden. Keinginan yang terpendam dari orang-orang Indonesia saat itu begitu optimistis bahwa setelah pileg kehidupan mereka akan membaik, minimal itulah yang selalu dinyanyikan oleh team sukses sambil berbusa-busa. Dan benar, busanya itu mengandung bisa yang menyengat para pendengarnya yang sudah terkantuk-kantuk itu.
Tapi setelah itu…
Setelah tahun 2009 itu berlalu, optimism pun tergerus secara perlahan, indahnya janji yang dikarang para caleg beserta team sukses itu seakan-akan belum menampakkan wujudnya, baik jihad atau pun tanpa. Seakan cerita itu lahir hanya dari sebuah ilusi pikiran semata, alhasil, para pendukungnya itu pun kembali ke dalam dunianya, dunia nyata yang penuh perjuangan sambil terseok-seok melupakan janji yang dikemas dalam cerita sang caleg itu, terselip dalam hati mereka rasa sedih, dan merasa dibodohi.
Bagi mereka yang menjadi tukang tabor pellet ikan, dia kembali ke profesinya, lelah menunggu perbaikan, pun juga demikian mereka yang menjadi bakul ayam, tukang bikin jamur putih, dan bakul buntut sapi. Para team sukses berbusa-busa tadi yang diprediksikan nasibnya akan membaik  pasca pileg, ternyata bernasib sama, nasibnya ternyata tidak ikut tergeret seperti halnya jagoannya yang dia bela itu. dia kembali kedunianya yang dulu, jadi tukang ngarit, atau menjadi guru ngaji.
Atas dasar itu kemudian Cerita 2009 ini yang seharusnya berhenti di tahun itu juga, ia kembali berteriak di tahun ini, tahun 2011, baik kisah andi nurpati, dewi yasin limpo (DYL), Arifinto, dan serba-serbi lainnya. seolah punya nyawa sendiri.
Tentu saya tidak hendak membicarakan mereka, sebab pengamat yang lebih pintar banyak mengulasnya, saya hanya ingin mengulas kembali sisi manusiawi yang luput dilihat media, karena tidak signifikan menurut kalkulasi pasar. Ya cerita itu ada di sudut-sudut desa yang mereka ceritakan kembali kepada saya.
Rom, aku kok kesel ya punya tetangga anggota dewan
Ungkapan itu meluncur bebas dari mulut lelaki berusia kurang dari separuh abad itu.
Dia baru saja beli motor baru, beli tanah lagi, sekarang malah punya mobil anyar. apa gak mikir ya team suksesnya dulu kayak pak tsalast yang sampe sekarang susah dan gak punya kerjaan tetap…?
Saya bingung jawabnya karena memang persoalan pikiran hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Tapi ungkapan itu meletupkan memori lama, kawan saya yang menjadi caleg tapi gagal kini harus berjibaku membayar hutang-hutangnya yang sudah berada di ambang waktu itu. Namanya Bu Nushrah. Dihadapan kawan-kawannya dia sempat menangis karena beban itu harus dia tanggung sendirian.
Jauh-jauh hari sebelum 2009 itu terjadi, di sudut ruangan sederhana, salah seorang ustadz memaparkan panjang lebar tentang organisasi islam, yang didalamnya kuat sekali unsure ukhuwah, ta’aruf dan takaful, beliau kemudian menguatkan dengan satu hadist bahwa seorang  muslim dengan muslim lainnya seperti satu jasad, jika satu sakit maka bagian lainnya akan ikut merasakannya.
Namun sudahlah…. sirah dan hadist itu hanya untuk materi pengajian saja, sebab untuk membawanya dalam dunia ini membutuhkan kompetensi tertentu yang tidak semua bisa orang menguasainya, butuh jam terbang dalam dunia praktek yang lama. ungkap saya dalam hati, menghalau segala macam pikiran yang mulai meneracau kemana-mana.
Namun pikiran saya yang meneracau itu lagi-lagi terlalu perkasa untuk ditenangkan, dia kembali dengan penuh kekuatan mengumpulkan memori yang terkait, ingatan saya pun meloncat ke salah satu sekolah, seorang kepala sekolah yang meminta saya datang ke sekolahnya itu memperbincangkan anggota dewannya yang dinilai leletan kalo kerja, pada saat yang lain, kawan saya yang berdomisili di wilayah barat pun tidak kalah sewotnya, proposal sekolahnya harus dititipkan ke Aleg yang bukan dari partai jagoannya.
Suara fals ini selalu mengkhawatirkan saya jika terjadi merata dan itu kenyataannya. Hampir-hampir saja semua dialog orang yang mengerti selalu berbicara tinggi, mulai dari persepsi high profil, susah dikasih tahu, kerja lamban, sampai susah dimintai bantuan.
Rom, anggota dewan saya yang sekarang ini kok gak tahu nongol di Koran ya…. Ungkap salah satu kawan saya, seorang PNS namun loyalis partai lokal. Di mata saya ungkapan itu sadis.
Ya aku gak ngerti Tanya saja yang bersangkutan… jawab saya
Jawaban itu sekaligus menutup pembicaraan politik dan meloncat ke dalam dunia bisnis, dunia penuh dengan gairah, ambisi dan duit, dan itu yang bikin hidup semangat.
Kenapa kemelut ini bisa hadir menerabas segala norma yang melarang segala bentuk konflik yang berakar dari kebencian. Sangat mungkin diawali dari disparitas antara harapan, jargon dan ajarannya terlalu jauh berjarak dengan kenyataannya. Apalagi secara psikologi, manusia religi biasanya lebih memilih untuk diam daripada “jalukan”. Namun psikologis ini bukan tidak dimengerti, namun sangat mungkin tidak dipakai, karena konsekwensinya berat untuk waktu, tenaga, pikiran dan kantong.
Sangat disayangkan jika cerita indahnya islam harus patah oleh cerita ini, namun bagi saya inilah ujiannya untuk tetap konsisten meyakini sebuah ide yang pernah terrealisasi di zaman yang tidak pernah saya rasakan, beberapa abad silam. Sebab waktu punya caranya sendiri untuk mengingatkan.

Senin, Agustus 22, 2011

POLITISI

 
Beberapa saat yang lalu, saya memberanikan diri minta kepada salah satu Anggota dewan untuk membantu kegiatan buka bersama yang diadakan oleh warga setempat. Jawabannya cukup mengejutkan;
Tidak bisa membantu, dengan alasan tidak ada uang”.
Respon saya pertama kali dalam hati saya adalah rasa kasihan dan keinginan kuat untuk memahami. Jawaban ini tentu bukan jawaban sederhana, sebab hingga saat ini masyarakat terutama konstituen masih belum rela jika jagoannya tampak tidak seperti dewa yang serba bisa membantu, apalagi mereka sendiri memang terjun langsung berpeluh ria di bawah terik matahari untuk berkoar-koar berkampanye, dan rela bermalam-malam menghadapi tusukan angin malam hanya untuk menempel poster jagoannya itu supaya terpilih menjadi aleg. Namun dalam kacamata saya itu wajar, apalagi mencari  harta halal dalam dunia politik bukanlah perkara yang mudah, namun saya pun tidak rela jika politisi baik ini menjadi bulan-bulanan konstituennya hanya karena harus milah-milah harta mana yang halal dan mana yang haram yang kemudian berujung pada minimnya penerimaan konstituen saat mereka membutuhkan bantuan.
Saya sepakat jika aleg tersebut tidak berhenti pada alasan financial yang terbatas, sebagai orang yang bermimpi Indonesia yang lebih baik, perlu ada pikiran setelahnya, yaitu perlu ada terobosan untuk menjembatani antara keterbatasan dengan permintaan dana dari konstituen yang memang tidak mungkin dinafikan, apalagi diharamkan dengan pungsinya selaku pemegang amanah rakyat yang menjaga kehalalan setoran.
Sangat dimungkinkan jika kelincahan dalam melihat peluang sumber uang adalah factor yang paling menentukan dalam membangun kekuatan financial anggota dewan, ini persoalan skill dan kecerdasan, terlepas dari kapasitasnya dalam memahami persoalan hukum Islam yang mengatur harta halal dan haram.
Saya kenal sama anggota dewan yang namanya tidak perlu saya sebutkan. Meski dia saat ini tidak lagi menjadi anggota dewan, namun namanya masih dikenang di kalangan konstituen, karena ditangannya cukup banyak harapan konstituen yang direalisasi, seperti permodalan, bantuan social, pertanian dan lain sebagainya. Kejeliannya dalam melihat peluang sumber dana yang kemudian digabungkan dengan kecerdasannya dalam memahami perundang-undangan, membuatnya selamat dari lirikan  aparat. Karena yang dilakukannya semua sesuai dengan aturan. Namun sayangnya kemampuan itu tidak bisa disamaratakan, sebab itu indra pengedus uang setiap orang berbeda-beda, apalagi kalau digabungkan dengan kecerdasan dalam melihat celah perundang-undangan dan jam terbang.
Kembali ke persoalan tadi, yang jadi pertanyaan adalah apa upaya untuk meningkatkan kemampuan financial anggota dewan tanpa harus melupakan peranan utamanya selaku perwakilan rakyat..?
Langkah Pertama yang dapat dilakukan oleh anggota dewan adalah mengenal pelaku usaha baik itu investor, pemilik usaha atau pun para agen marketing. Semua ini harus dikenal karena ditangan mereka sumber-sumber keuangan itu ada. Keterbatasan kenalan dengan para pelaku usaha akan sangat mungkin berdampak pada keterbatasan pada financial untuk membiayai kegiatan-kegiatan operasional yang terkait erat dengan konstituen.
Selain itu Perlu dilanjutkan pada langkah kedua yaitu kenal dengan manusia-manusia yang membutuhkan produk dari pelaku usaha yang sudah dikenalnya itu. Contoh, Jika Anda kenal sama pemilik perusahaan farmasi, maka selaku anggota dewan wajib mengenal kepala rumah sakit, baik swasta atau pun negeri. Begitu pun jika Aleg punya kenalan trainer, bisa juga dihubungkan dengan beberapa pimpinan bank cabang lokal untuk mentraining seluruh karyawannya. jika sukses Aleg tersebut akan memperoleh fee penjualan. Menurut pandangan saya itu dana halal. Jadi hanya kenal saja tidak cukup, Aleg harus menghubungkan dan deal.
Saya pernah kenal dan dekat dengan salah satu anggota dewan, saat itu saya selaku ketua organisasi pasti membutuhkan biaya operasional organisasi baik yang langsung saya pimpin atau pun yang ada di leading sector. Berat rasanya kalau mengandalkan iuran anggota. Untuk keluar dari persoalan itu saya biasa silaturahim dan tukar gagasan dengan anggota dewan dan Alhamdulillah bantuan itu cukup lancar mengalir. Menurut pengakuannya, beliau cukup banyak terbantu dengan usaha mengenalkan antara pelaku usaha dengan pihak yang berkepentingan dengan produk dari pelaku usaha tersebut, baik kepala dinas mau pun komunitas. Jika tidak begitu, mungkin nasibnya sama dengan beberapa kawannya, terpental setelah tergagap-gagap dimintai bantuan oleh konstituennya.
Langkah Ketiga dunia politik ini dalam pikiran saya adalah dunia maneuver, ya maneuver untuk mengatasi kebuntuan dan kesulitan. Salah satu maneuver yang paling kuat saat ini adalah kemampuan untuk menguasai dan mengkondisikan rapat. Beberapa politisi saya akui cukup handal dalam membangun team untuk bermanuver. Kemampuan ini bukan hanya bisa membungkam para politisi busuk, namun yang terpenting adalah menumbuhkan perasaan terbantu pada diri politisi lainnya melibatkan Aleg tersebut pada setiap kebijakan yang akan diambil, serta menumbuhkan perasaan yang dihantui ketakutan pada diri politisi lainnya jika tidak melibatkan Aleg tersebut dalam setiap kebijakan yang diambil, ketakutan itu timbul dari keganasan retorika yang dimiliki aleg tersebut dalam mempermainkan logika politisi lainnya.
Saat kemampuan maneuver itu ada pada diri Aleg, sangat dimungkinkan jika rapat-rapat non formal yang membahas ranperda pun akan melibatkan si Aleg tersebut. Jika sudah demikian, Aleg tersebut bisa mendapat akses APBD lebih besar. Secara hukum yuridis selama tidak tersandung pidana korupsi, itu semua halal, sementara secara de facto justru hukumnya wajib. Namun sayang, logika jumlah besar akan mengalahkan jumlah kecil cukup mengganggu pikiran saya, dan itu yang sering dijadikan oleh manusia bermental ayam sayur sebagai alasan untuk tidak berambisi menang.
Langkah Keempat adalah mengenali kembali kekuatan dan kekuasaannya selaku anggota dewan. Sekitar satu pecan yang lalu salah satu pimpinan DPR berbicara akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk mendorong Indonesia mengakui kemerdekaan Kosovo. Rasanya bahagia dan bangga punya pimpinan macho semodel itu. Begitu pun dengan aleg lokal, perlu rasanya menghitung-hitung kembali kekuatan dan kekuasaanya.
Politik adalah dunia symbol dan sinyal. Disini bisa dimengerti kenapa kepala dinas enggan sekali berurusan dengan anggota dewan, sebab selain akan berhadapan dengan srigala lapar juga kekhawatiran akan nasibnya yang diombang-ambingkan lobi aleg kepada walikota atau bupati.  
Di sini berarti segala senyuman, lirikan, bahkan gertakan pun perlu dikapitalisasikan menjadi kekuatan Aleg.  Caranya dengan mengetahui sumber kesenangan dan sumber ketakutan subjek, serta memasukkan sugesti bahwa aleg tersebut selain menjadi partner yang bisa memberi manfaat, jika bisa menjadi sumber malapetaka jika berurusan dengan aleg tersebut. Ya sesekali pake jargon “ayo bung ribut kembali, tapi itu sesekali saja, kalau urusan kemaslahatan diusik. Jika kondisi sedang adhem dan kondusif, barulah pake jargon ayo rebut kembali.  
Langkah Kelima membangun team politik yang progresif menjadi penutup dari ketiga langkah di atas. Team ini bukan hanya mengumpulkan segala kekuatan yang ada pada aleg, juga menjadi bagian yang mengatasi kelemahan aleg tersebut.  Mereka yang terlibat dalam team tidak harus dari kalangan aleg sendiri, namun dari manusia yang potensinya berada pada celah lemah yang dimiliki aleg tersebut, atau potensinya terletak pada kerja-kerja yang akan didelegasikan kepadanya, team ini mungkin dinamakan staf ahli.
Staf ahli ini yang menganalisa, mempersiapkan bahan omongan di forum untuk aleg tersebut, sekaligus memperkuat dengan data-data akurat. Catatan yang akan dilontarkan aleg di forum biasanya ada dimeja aleg beberapa jam sebelum rapat dimulai, jadi aleg menerima matangnya saja.  Mereka tentu digaji secara layak dengan ukuran keahlian, bukan UMR, karena ilmu dan kecekatan mereka saat bekerja belum bisa disamakan dengan pegawai pabrik. Tapi sepertinya Gaji ini yang sering membuat aleg agak enggan menunjuk staf ahli. Asumsi bahwa mereka sudah punya banyak pengeluaran cukup menjadi kata pamungkas untuk tetap bekerja secara tradisional. Mungkin logikanya lebih baik alon-alon tapi murah, dari pada banter tapi mahal.
Jujur saya memuji kesabaran aleg yang tidak punya staf ahli, sebab mereka harus ketemu konstituen sendirian, memilah-milah proposal sendirian, sekaligus mengantarkannya ke kepala dinas juga sendirian, membaca draft perundang-undangan daerah sekaligus mempersiapkan bahan gagasannya di forum juga sendirian, Ini manusia superman yang hampir mustahil saya temui mengingat jatah waktu semua manusia hanya 24 jam dan keterbatasan kekuatan fisik dan psikis yang semakin meranggas di makan usia.  
Sebelum menutup tulisan ini, saya teringat ada cerita seekor singa ganas yang menggunakan cakar dan segala keahliannya untuk menangkap tikus-tikus.  Sebanyak apa pun singa makan tikus, karena yang dimakan itu tikus, maka singa itu akan kembali lapar jika waktu mulai beranjak sore. Singa itu barangkali tidak akan mengalami kelaparan lagi jika keahliannya itu digunakan untuk menerkam kijang. Cerita super pendek ini mungkin banyak tafsirnya, dan tafsir itu saya kembalikan kepada pembaca.

Jumat, Juli 29, 2011

GURU

 Guru merupakan elemen sejarah dalam miniature jiwa manusia, tidak semua orang dapat dikenang abadi seperti halnya guru; kebaikannya, perhatiannya, keramahannya atau pun keganasannya menghukum mereka yang embalela, seperti saya yang pernah ditampar dan dipajang di pinggir lapangan, perasaanku saat itu bak seonggok daging yang dihina dina kawan saya, menertawakan penuh kemenangan,
Si Romi akhirnya kena sialnya setelah lama berpetualang...  mungkin itu kira-kira isi hati kawan-kawan saya. Namun dari sana saya belajar bahwa untuk beraksi butuh perencanaan dengan runtutan scenario yang lebih detail. Setelah itu dengan izin Allah petualangan saya hampir-hampir jarang terendus sebagai murtakib kabiir.
Dalam bahasa Arab, Guru memiliki banyak kata, seperti muallim; orang yang memberi ilmu, mudarris orang yang memberi pembelajaran, bahkan murabbi, orang yang merawat dan menumbuh kembangkan jiwa raga manusia. Kata Guru sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang berarti berat. Dapat dimaknai bahwa mengajar adalah tugas berat yang bisa dipikul oleh manusia berjiwa tangguh yang memiliki kemampuan mengasuh.
Dapat dimengerti jika mereka hadir dalam setiap relung jiwa manusia, karena mereka yang memindahkan peradaban dari generasinya kepada generasi kita yang lebih muda, secara tidak langsung membangun arketif (meminjam istilah Jung) dalam jiwa generasi baru yang telah berlangsung sejak kebudayaannya dimulai. Oleh sebab itu kenapa setiap mimpi pada manusia yang bersuku sama selalu ada kemiripan. Ya.. mereka yang mengajari kita tulis menulis, yang mengajari berhitung, manajemen konflik dengan kawan, belajar untuk menata buku, mengajari sikap yang benar saat menghadapi ujian, mengajari sikap hormat kepada siapa pun orang yang lebih tua, dan secara tidak langsung mengajari cara hidup, serta cara berfikir.
Bisa dikata bahwa guru dalam imaji manusia adalah gambaran dunia ideal, di mana setiap ada kesulitan guru hadir membimbing, setiap ada persoalan guru hadir sebagai pemecah. Ia hadir dalam sosok yang teduh, namun bisa berwujud mengerikan dan berwibawa melebihi orangtua yang melahirkan, tak heran anak-anak lebih takut dilaporkan kepada guru daripada mata melotot orangtuanya.
Malam ini, udara semakin dingin, meminta manusia untuk segera berhenti bekerja dan memaksa berangkat ke peraduan, mungkin saja dinginnya malam ini persis dirasakan oleh guru-guru saya yang pernah mengajar saya di sekolah dasar dulu, namun dingin mereka bukanlah dinginnya saya, dinginnya mereka bisa jadi diartikan sebagai dinginnya dunia yang tidak pernah ramah menyapanya.Walau saya mengerti betul bahwa ada sisi lain yang membuatnya memilih guru sebagai jalan hidupnya, yaitu makna, dari makna itulah yang membuat pengabdian mereka terkenang abadi dalam ingatan manusia.
Seiring dengan perjalanan manusia, keinginan pun semakin banyak, guru pun semakin realistic dalam memandang dunianya, anak-anak semakin besar, dan tuntutan pun semakin mendesak, pemerintah seakan mengerti akan abdi pegawainya, dia menaikkan gaji guru, kehidupan layak terpapar sudah di depannya, namun persoalan guru tidak berhenti di sana, rupanya ada yang kurang tersiapkan dalam menghadapi kemilau itu semua, yaitu mempersiapkan makna (meminjam istilah Frankl) dalam jiwa mereka di saat mereka menghadapi anak-anak yang lugu dan di saat mengambil uang gaji. Hasilnya jelas, kehampaan eksistensial dalam hidup guru kini semakin menyeruak.
Tidak seperti halnya presiden yang dikelilingi oleh team yang setia mensuplai informasi yang diperlukan untuk mempermudah segala urusan kepresidenan, guru pemain sendirian, ia kerjakan sendiri RPP, kerjakan sendiri absensi, menilai sendiri nilai ujian sekaligus mengoreksi dan membuatkan soal, namun pada saat bersamaan, anaknya yang mulai beranjak besar merengek minta dibelikan handphone. Dengan gaji yang sudah dipotong sana-sini, persoalannya kemudian berpindah ke pikiran, pikiran itu yang membuat para guru memiliki penyakit khas, diabetes, darah tinggi, darah rendah; hasil kehampaan yang tidak diantisipasi.
Ada benarnya juga pandangan Psikolog Yahudi yang bernama Victor Frankl itu, menurutnya, pleasure principle (keinginan mencari kesenangan), atau striving for superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan) bukanlah hal mendasar dari inti persoalan manusia. Keduanya, hanyalah bentuk terselubung dari persoalan dasarnya, yakni kehampaan eksistensial. “Kadang-kadang, terganggunya upaya orang terkait untuk mencari makna hidup berubah menjadi keinginan besar untuk berkuasa, dibarengi dengan salahsatu bentuk paling primitif…,yaitu keinginan memperoleh kekayaan.”.
Namun dengan keterbatasan mata saya memandang, saya dapat mengerti kehampaan itu terjadi, sebab setelah sekian tahun lamanya guru terus dipaksa untuk menelan adagium guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa itu diartikan sebagai pekerja keras dengan gaji minimalis, setelah sekian tahun hanya bisa meradang, fajar kebebasan itu menyingsing, dan itu diartikan bahwa peluang untuk mendapat kesejahteraan itu semakin dekat. Dan peluang itu sudah terasa hasilnya. Perubahan yang terlalu cepat menuju hidup yang berkecukupan ternyata selalu menyisakan satu persoalan, yaitu selalu lalai untuk mengkondisikan jiwanya bahwa inti dari itu semua adalah untuk memudahkan hidup, bukan tujuan.  Seperti halnya reformasi bukanlah tujuan tapi hanya sarana. Pertanyaannya adalah, setelah mendapat gaji cukup, mau ngapain lagi? Tidak ada jawaban.
Adalah kawan saya yang memilih profesi menjadi guru, niatan suci ini hadir berkelebat kuat dalam alam pikirannya selepas kuliah; dunia menurutnya dapat ditandaskan dengan semangat membara. tekadnya untuk tidak menjadi PNS selalu menggedor jiwanya yang aktivis itu. Keputusannya kemudian jatuh kepada sekolah Islam yang berbasis intergral, sayang rupanya hidup ini dalam beberapa segi dapat dimaknai sebagai transaksi kertas berangka untuk memudahkan hidup. Hal itu tidak didapatkan dalam sekolah yang baru mengerti bahwa jihad dan ikhlas posisinya berlawanan dengan kemudahan hidup. Kini idealismenya tergadai, tunduk dibawah tuntutan istrinya yang menginginkan kendaraan untuk mobilitas, tunduk oleh desakan mertua yang kasihan melihat morat-maritnya kehidupan.
Rupanya hingga kini, dua idealism antara makna dan kemudahan hidup belumlah menjadi kawan baik dalam dunia guru. Dahulu mereka memilih hidup sederhana dengan penuh makna kerena memang itulah nyatanya, bagi yang tidak ingin menjadi guru dengan segala kesederhanaannya, pergilah menjauh. Namun kini kemudahan itu tampak nyata, dengan idealismenya yang tergadaikan, anak hanya dipandang dari skor 1-10, semakin kecil angkanya semakin kecil pula nilai anak di depan matanya.
Di Babakan Kalangsari, Monumen MADRASAH IBTIDAIYYAH MUHAMMADIYAH MANBAUL ULUM itu masih berdiri kokoh, telah ada perubahan di beberapa sudut bangunan, meski tidak banyak. namun aura kesederhanaannya masih kuat memancar. Ukurannya tidaklah terlalu besar namun berjuta-juta memori hadir dari sana, seperti dinamit meledak sesaat setelah mata saya terpapar bangunan yang tidak banyak berubah itu, dari sana pula jejak-jejak ribuan manusia mengharu biru peradaban, ada yang menjadi pengusaha meubel, pedagang kain, PNS, Ustadz, Guru, Ibu rumah tangga, tukang becak, tukang batu, tukang minyak, aktivis LSM, bidan, dokter, dan sedikit diantara muridnya suka mabok dan madat, keaneka ragaman ini mungkin saja tidak sedikit pun terbayang oleh guru-guru pada saat itu kami yang masih mungil dan lucu itu akan bertebaran di muka bumi dengan beragam jejak yang tidak ada di dunia pada saat mereka masih muda.
Hmm bangunan mungil ini menjadi tempat segala suasana saat saya mulai belajar mengerti arti kehidupan, saat saya bermain sepak bola, piket kelas, dimusuhi dan memusuhi, gelut, bolos, mencuri jambu, dikejar petani bergolok karena ketahuan mencuri mentimun, mencari kawan dekat, dihukum guru dengan alasan yang bervariatif, dan belajar arti cantik dan ganteng itu dari rangking, semakin besar angka rangkingnya, semakin jelek wajahnya terlihat di mata kami.
Adalah Pak Asep yang mengajari saya menulis dan berhitung di kelas satu, -Bapak saya yang menjadi kepala sekolah, awalnya saya hanya menjadi anak titipan saja, -. Saat itu saya merasa lebih bangga mendapat nilai tujuh dibanding delapan, saat itu pula saya dipaksa mengerti sambil menggerutu bahwa nilai delapan ternyata lebih tinggi dari tujuh, namun pak asep seakan tidak peduli, ia raih kembali tangan saya, dibimbing bagaimana cara menulis dengan pensil.
Pun Juga dengan Pak Isak, yang pernah menjadi guru kelas, seorang punisher yang hebat, di tangannya, murid lelaki bandel, mbalela, tukang ngompas harus terkaing-kaing mendapat pukulan mistar kayu yang panjangnya satu meter itu, selain mengajar dan menghajar murid lelaki bandel, beliau secara konsisten mempush up kan seluruh murid laki-lakinya jika bel pulang berbunyi, bak begundal yang tertangkap, selain di push up, punggung kami pun dihajar mistar kayu, tidak peduli anak ustadz, anak RT, anak pedagang semuanya yang berjenis kelamin lelaki harus merelakan tangannya push up sambil punggungnya dihajar mistar kayu tanpa ada satu pun yang membela kami, tidak tukang es tidak pula tukang gorengan, mereka semua ikut menertawakan kami, ya menertawakan kami yang tengah menjadi objek tertindas. sementara yang murid perempuan dengan bebas nyelonong pulang penuh kemenangan, sesekali mata mereka menatap kami penuh kepuasan. beruntung, para pejuang HAM belum berpikir untuk mengarahkan proyeknya ke dunia pendidikan.
Hari ini semakin malam, ketika pikiran terus memburu membuka file-file lama yang berada dalam tumpukan memori lapuk ini, memakan waktu untuk mengingat kembali memori itu, namun seperti ekstase yang semakin lama semakin bersemangat untuk kembali menghadirkan kenangan indah itu dalam pikiran yang ada dalam kepala ini. Ups saya baru sadar bahwa di setiap sekolah selalu ada yang bukan sekolah, mereka adalah tukang es, tukang sirop, tukang cendol, tukang rambutan, tukang game watch, entah kemana mereka saat ini dan bagaimana kehidupan mereka, Allah sering membuat keindahan hidup ini terbuat dari untaian hidup manusia yang saling bertemu untuk kemudian terpisah kembali, diingat namun tidak bisa dilacak.
Guru saya bukanlah orang besar, dalam sejarah pun mereka hanya menjadi fenomena sepintas, sepintas hanya pada manusia yang pernah menjadi siswanya, setelah itu hilang begitu saja ditelan hukum sejarah. Namun justru ketidakbesaran itu untuk membangun kebesarannya dalam jiwaku ini yang selalu meronabirukan hati, jika terdengar guru yang hidup bersusah payah di dunia saat ini; andai saja saya bisa membantu.
Jika saja idealism dan makna itu dapat kawin, amat dimungkinkan guru saya yang kini hidup di usia senja ini tidak lagi hidup dalam ketergantungan uang pensiunan yang tak seberapa itu, namun pengandaian itu hanyalah sebuah ilusi semata, sebab sejarah berputar hanya untuk peristiwa, bukan untuk generasi.  
Tahun demi tahun, setiap manusia selalu memburu keinginannya yang tidak berkesudahan, namun guru-guru saya telah beranjak tua, mereka mulai menanyakan nama saya jika saya sapa mereka di perempatan jalan, sesaat setelah  dia turun dari angkot yang berhenti di pojok kiri pasar Pancasila, dengan tas kulitnya yang lusuh itu. Sakit rasanya tidak diingat, namun saya dapat mengerti bahwa pikirannya sudah banyak tersita oleh pesoalan hidup yang berjejal-jejal itu.
Malam ini, pukul 23:02 guru-guru saya sedang istirahat, sambil menanti esok dengan cerita yang sama, mengajar anak-anak menghantarkan ke dunia lebih baik, namun tidak untuk dunia mereka.. sementara tetes air mata ini tidak lagi terbentung, sedih tiada tara, saya belum bisa berada di sisinya saat mereka dalam kepayahan karena usianya yang semakin senja,…